Categories
Obat

Catat! Cara Mengobati TBC Laten dan Aktif Berikut

TBC merupakan salah satu satu penyakit yang familier di kalangan masyarakat. Tercatat, setidaknya dalam satu tahun terdapat 150 ribu kasus TBC di Indonesia. Tuberkulosis (TBC) bukanlah penyakit yang dapat sembuh dengan sendirinya tanpa penanganan yang baik dan menyeluruh. Cara mengobati TBC perlu rekomendasi medis dari dokter, sehingga penyakit ini dapat diatasi dengan benar dan tidak menyebabkan timbulnya komplikasi kesehatan lain.

Bakteri Mycobacterium tuberculosis adalah jenis infeksi bakteri yang menyebabkan penyakit ini. Secara garis besar, penderita TBC terbagi menjadi dua kelompok, yaitu pasien aktif dan laten. Pasien TBC aktif merujuk pada individu terinfeksi yang memiliki bergejala, sedangkan TBC laten adalah individu yang sudah terinfeksi bakteri, namun tidak bergejala maupun mampu menularkan TBC ke orang lain. Menurut data dari WHO, setidaknya sepertiga populasi dunia mengalami TBC laten. Mencari cara mengobati TBC yang benar, berperan dalam menekan laju penyebaran infeksi maupun infeksi bakteri yang lebih serius lagi.

Apa saja cara mengobati TBC?

Salah satu cara mengobati TBC adalah dengan mengonsumsi obat jenis antibiotik. Namun, pada dasarnya mencari cara mengobati TBC yang terbaik tergantung pada individu atau pasien TBC itu sendiri.

1. Pengobatan untuk pasien TBC aktif

Pasien TBC aktif membutuhkan sejumlah antibiotik yang perlu dikonsumsi dalam kurung waktu 6-9 bulan untuk mengobati penyakit yang diderita. Adapun jenis obat yang dikonsumsi oleh pasien TBC aktif, yaitu:

  • Ethambutol
  • Rifampin
  • Isoniazid
  • Pyrazinamide

Sebelum meresepkan obat TBC, dokter akan melakukan tes terlebih dulu pada pasien konsultasinya. Hasil tes ini dapat membantu dokter mendiagnosis jenis bakteri tuberkulosis yang terdapat dalam tubuh pasien.

Rekomendasi resep yang biasanya diberikan untuk pasien, yaitu sekitar 304 jenis obat yang harus dikonsumsi selama dua bulan. Lalu, jumlah obat akan berkurang menjadi dua jenis dan perlu dikonsumsi selama 4-7 bulan ke depan.

Jika Anda ingin berhenti mengonsumsi obat TBC, Anda memerlukan izin dari dokter terlebih dulu. Dalam beberapa kasus, pasien dapat saja merasa baik untuk beberapa minggu pertama saat mengonsumsi obat TBC, namun kondisi ini tidak menjamin bahwa tuberkulosis yang dialami sudah tidak menular.

2. Pengobatan untuk pasien TBC laten

TBC laten berpeluang menjadi TBC aktif dan dapat bersifat menular. Oleh karena itu, TBC laten juga perlu diobati secara menyeluruh. Terdapat tiga jenis antibiotik untuk mengatasi kondisi TBC ini:

  • isoniazid dan rifapentine: jenis antibiotik isoniazid dan rifapentine ini dapat dikonsumsi secara bersamaan. Umumnya, obat ini dikonsumsi sebanyak sekali seminggu selama tiga bulan lamanya.
  • Isoniazid: jenis antibiotik yang umumnya diresepkan sebagai cara mengobati TBC melalui terapi. Antibiotik ini perlu dikonsumsi selama sembilan bulan setiap hari.
  • Rifampin: rifampin atau rifampicin adalah jenis antibiotik alternatif bagi individu yang tidak dapat mengonsumsi isoniazid.

3. Cara mengobati TBC akibat resistensi antibiotik

Dalam suatu kasus, di mana pasien terinfeksi TBC tidak dapat sembuh walau sudah mengonsumsi obat yang diresepkan, maka pasien tersebut didiagnosis resistan terhadap obat atau resistensi antibiotik. 

Pasien resistensi antibiotik akan diberikan jenis obat lain untuk durasi yang lebih panjang, sekitar 20-30 bulan. Adapun jenis obat yang diberikan pada pasien resistensi antibiotik, yaitu:

  • Antibiotik lain: asam salisilat para-amino, bedaquiline, dan ethionamide
  • Antibiotik suntik: kanamycin, capreomycin, amikacin
  • Antibiotik fluoroquinolone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *