Category Kesehatan Mental

sindrom asperger

Apakah Sindrom Asperger termasuk Autisme?

Tahun lalu, penyanyi Robbie Williams membuat kabar mengejutkan dengan mengaku sebagai pengidap sindrom Asperger. Pengakuan ini membuat banyak penggemarnya bertanya, apakah Asperger Syndrome itu?

Diambil dari nama dokter anak yang pertama kali mengidentifikasi ini, yaitu Hans Asperger dari Austria pada 1944, sindrom ini merupakan kelainan pertumbuhan karakter anak, yang terlihat dari kesulitan anak berinteraksi sosial dan berkomunikasi nonverbal, serta memiliki ketertarikan pada pola yang berulang. Sindrom ini membuat anak tersebut kesulitan berinteraksi dengan lingkungannya. Biasanya, anak dengan Asperger juga cenderung ceroboh secara fisik, seperti sering menjatuhkan benda yang dipegang atau menumpahkan minuman.

Lebih dikenal hanya dengan Asperger, sindrom ini tergolong autisme spectrum disorder (ASD) tingkat rendah. Anak dengan Asperger bisa dibedakan dengan anak dengan autisme lain lewat tingkat kecerdasan dan penguasaan bahasa yang relatif lebih tinggi. Kemampuan bahasa dan inteligensi yang relatif normal itu kerap membuat gejala asperger sulit terdeteksi. Perlu pengamatan jeli orang tua untuk mendapati gejala anak dengan asperger, yang bisa didapati mulai anak berumur dua tahun.

Kesulitan anak berinteraksi secara sosial dapat dilihat dengan ketiadaan kontak mata saat berbicara, canggung di tengah orang banyak, gugup saat berbicara, sulit merespon pertanyaan. Tanda lain yang bisa orang tua curigai adalah anak hanya menunjukkan emosi. Misalnya cuma tersenyum pada situasi yang membuat anak-anak seumurnya tertawa, serta nada bicara yang terus menerus datar.

Mengidentifikasi anak dengan asperger juga bisa dilihat dari perangainya. Mereka memiliki ketertarikan yang terbatas. Namun, begitu suka akan satu hal, dia akan terus mengulang kesukaannya itu. Mereka menyukai gerakan repetitif. Anak dengan asperger juga cenderung hipersensitif, misalnya terhadap cahaya, suara, rasa, dan lainnya.

Jika orang tua mendapati serangkaian gejala itu, sebaiknya memeriksakan anak ke psikolog. Kalau terbukti positif, perawatan bisa dilakukan dengan pelatihan keterampilan sosial, misalnya berinteraksi dengan orang lain dan mengekspresikan diri dengan lebih tepat. Terapi bicara yang biasa diterapkan pada anak dengan autisme lebih difokuskan pada peningkatan keterampilan berkomunikasi dengan orang lain, termasuk kontak mata dan mengontrol volume suara. Sindrom ini biasanya tidak membutuhkan obat. Namun, pada kondisi tertentu, dokter dapat memberi resep antipsikotik dan obat stimulan.

Meski tergolong kelainan pertumbuhan, sindrom asperger membuat anak memiliki kelebihan dibanding sebayanya. Misalnya, memiliki fokus dan ketekunan tinggi, berbakat dalam mengenali pola, dan memiliki perhatian yang tinggi terhadap detail.

Read More
manfaat bergerak bagi kesehatan mental

Manfaat Mengejutkan Bergerak untuk Kesehatan Mental

Kita semua tahu bahwa perasaan dan kondisi mental bisa memengaruhi gerakan tubuh. Lalu bagaimana sebaliknya? Apakah bergerak bisa memengaruhi perasaan? Jawabannya, bisa. Misalnya ketika Anda merasa lelah dan sedih, tubuh pun akan terasa berat untuk digerakkan. Saat merasa cemas, seseorang akan cenderung bergerak sembarangan atau justru tidak bergerak sama sekali.

Hubungan Gerakan Tubuh dengan Kesehatan Mental Seseorang

Baru-baru ini, sebuah studi menunjukkan bahwa hubungan otak dengan tubuh adalah hubungan dua arah. Artinya, saat salah satu bagian melakukan sesuatu, yang lain akan bereaksi. Olahraga misalnya, terbuktik mampu mengatasi masalah mood akut.

Melakukan aerobik secara rutin akan mengurangi kecemasan karena saat itu otak akan dipaksa untuk ‘berperang’. Ketika seseorang berada dalam kecemasan tinggi, perubahan fisiologis dari sesuatu yang mereka takuti seperti aktivitas yang menyebabkan detak jantung menjadi cepat akan membuat mereka lebih kebal dari gejala-gejala kecemasan.

Olahraga teratur seperti bersepeda atau latihan aerobik, resistensi, fleksibilitas, dan latihan keseimbangan yang Anda lakukan di tempat fitnes juga dapat mengurangi gejala depresi. Latihan semacam ini bisa sama efektifnya dengan obat dan psikoterapi. Olahraga teratur dapat meningkatkan mood dengan meningkatkan protein otak yang disebut BDNF yang membantu kesehatan saraf.

Bagi orang-orang yang menderita ADHD (attention-deficit disorder), ada penelitian lain yang menunjukkan bahwa satu kali 20 menit latihan bersepeda bisa mengurangi gejala penyakit. Latihan semacam ini bisa meningkatkan motivasi penderita untuk melakukan kegiatan yang membutuhkan fokus serta meningkatkan energi. Ini juga bisa mengurangi perasaan bingung dan lelah dari orang-orang yang depresi.

Gerakan meditasi yang cenderung tidak intens pun ternyata bisa mengurangi gejala depresi. Ini merupakan gerakan yang membuat Anda fokus pada sensasi tertentu pada tubuh Anda (dalam hal ini seperti perubahan detak jantung dan pernapasan). Melakukan yoga jugadapat mengurangi gejala seseorang yang menderita pasca-trauma. Mengubah posisi tubuh, mengatur pernapasan dan ritme gerak ternyata terbukti bisa mengubah kondisi di otak sehingga stres, depresi dan kecemasan bisa teratasi sedikit demi sedikit.

Manfaat Mengejutkan dari Sinkronisasi Gerakan

Latihan fisik dan gerakan meditasi hanya beberapa contoh kegiatan yang bisa Anda lakukan sendiri. Bayangkan saja, tanpa bantuan siapapun, Anda bisa memperbaiki mood Anda sendiri. Penemuan lain yang tak kalah mengejutkan adalah bagaimana gerakan yang selaras dengan orang lain juga bisa meningkatkan kepercayaan diri Anda.

Tubuh dan pikiran adalah satu kesatuan. Meskipun otak dianggap sebagai pengontrol tubuh, cara tubuh kita bergerak juga memengaruhi perasaan, cara Anda berpikir dan memandang sesuatu.

Terapi gerakan saat ini sering digunakan untuk menyembuhkan orang-orang dengan masalah kecemasan dan depresi. Jika Anda merasa terlalu lelah mengendalikan pikiran dengan berfokus pada sesuatu yang positif, bergerak dengan olahraga, sekadar berjalan-jalan atau melakukan gerakan bersama-sama dengan orang lain bisa membantu Anda mengatasi masalah kecemasan yang muncul.

Read More