Categories
Kesehatan Wanita

Membedakan Darah Haid dan Darah Keguguran, Bagaimana Caranya?

Bukanlah hal yang mudah memang membedakan antara darah haid dan darah keguguran. Terkadang, keguguran bisa terjadi sebelum orang tersebut menyadari bahwa dirinya hamil. Sekitar 80% kasus keguguran terjadi pada trimester pertama, tepatnya 12 minggu pertama kehamilan.

Ketika keguguran terjadi lebih awal, dalam 5 minggu pertama, Anda mungkin saja menganggap hal tersebut sebagai kehamilan kimiawi. Ini merujuk pada kehamilan yang dapat dideteksi oleh tes darah atau tes urin di rumah, tetapi tidak dapat dideteksi oleh USG.

Dalam artikel ini, Anda akan segera mengetahui cara membedakan darah haid dan darah keguguran. Ini akan membantu menentukan kapan waktunya Anda harus mendapatkan perawatan medis.

Ciri-ciri darah haid dan darah keguguran

Umumnya, perdarahan atau bercak yang keluar dari vagina adalah hal yang biasa terjadi pada awal kehamilan. Namun, jika ini adalah keguguran dini, Anda mungkin melihatnya mirip dengan darah haid, termasuk sakit perut dan keluar bekuan darah atau jaringan.

Untuk membantu Anda membedakan darah haid dan darah keguguran, Anda harus tahu bahwa periode haid bervariasi setiap orang dan bisa berubah seiring waktu. Bahkan, darah haid bisa menjadi lebih berat dan ini mungkin hal yang wajar terjadi.

Ketika keguguran terjadi sebelum Anda mengetahui bahwa Anda sedang hamil, mungkin sulit untuk membedakan antara darah haid dan darah keguguran yang sebenarnya. 

Beberapa karakteristik yang membuat darah haid dan darah keguguran terlihat sama adalah:

  • Pendarahan, pendarahan hebat, atau pendarahan lebih lama dari biasanya.
  • Kram dan sakit perut.

Namun, jika Anda mengalami keguguran, Anda mungkin juga mengalami:

  • Pengurangan gejala hamil, seperti mual dan muntah.
  • Mengalami demam jika keguguran disebabkan oleh infeksi. 
  • Mendapat haid kurang dari 2 minggu setelah haid sebelumnya.

Jika kondisinya seperti ini, maka sulit untuk mengetahui apakah itu darah haid atau darah keguguran. Di sisi lain, keguguran pada waktu ini sering kali tidak menyebabkan pendarahan yang lebih berat atau lebih lama dan sangat tidak mungkin mengalami komplikasi.

Apakah ada tanda-tanda lainnya dari keguguran?

Jawabannya adalah ada. Tanda-tanda lainnya yang mungkin menunjukkan Anda mengalami keguguran, bukan haid, meliputi:

  • Kram perut bagian bawah, karena terjadi kontraksi otot yang kuat dan nyeri di punggung bawah dan panggul.
  • Ada cairan keluar dari vagina yang biasanya tidak terjadi selama satu periode.
  • Darah keluar bersamaan dengan jaringan, bekuan darah, atau gumpalan yang berwarna abu-abu atau putih.
  • Pendarahan bisa dimulai cukup tiba-tiba, dan mungkin lebih berat daripada haid. Pendarahan bisa berlangsung dalam beberapa hari hingga 2 minggu.
  • Kadar hormon kehamilan yang rendah pada awal kehamilan, dan bisa turun tepat sebelum keguguran. 

Perlu dicatat bahwa tes kehamilan mungkin saja memberikan hasil negatif palsu jika kadar hormon kehamilan Anda sangat rendah atau tes tersebut tidak cukup sensitif. Jadi, lebih baik periksakan langsung ke dokter jika Anda mulai merasakan tanda-tanda kehamilan.

Lalu, kapan sebaiknya periksa ke dokter?

Anda harus segera menghubungi dokter setiap kali mengalami rasa sakit yang tidak terduga atau perdarahan yang berlebihan. Gejala-gejala ini bisa saja terjadi akibat kehamilan ektdopik, di mana sel telur yang telah dibuahi tumbuh di luar rahim, kemungkinan besar di tuba falopi. Kondisi ini termasuk darurat medis.

Anda juga harus memeriksakan diri ke dokter jika darah yang keluar dari vagina bersamaan dengan lendir, jaringan, dan bekuan darah. Ingatlah, pada dasarnya, perbedaan darah haid dan darah keguguran ini bukan patokan dasar untuk menetapkan perdarahan yang sedang Anda alami. Tetap yang terbaik adalah cek langsung ke dokter kandungan untuk memastikan kondisi kesehatan Anda saat ini.

Categories
Kesehatan Wanita

Makan Timun Saat Hamil, Berbahayakah? Ini Penjelasannya

fakta seputar makan timun saat hamil

Asupan makanan dan minuman bagi ibu hamil perlu untuk lebih diperhatikan. Pasalnya, segala sesuatu yang dikonsumsi oleh ibu, akan secara otomatis dikonsumsi oleh janin. Ibu hamil mungkin pernah mendengar mitos tentang makan timun saat hamil dapat membahayakan kesehatan janin. Sebelum Anda memutuskan untuk mempercayai mitos tersebut atau tidak, mari simak penjelasannya di bawah ini. 

Boleh atau tidak makan timun saat hamil?

Jika pertanyaannya seperti di atas, maka jawaban ‘ya’ cukup dapat menjawab. Namun, ‘ya’ ini tentunya diikuti dengan berbagai kondisi, seperti makan timun saat hamil dalam porsi yang kecil dan tidak berlebihan. 

Memang, timun bukanlah makanan yang paling banyak direkomendasikan untuk gizi ibu hamil, karena berisiko menimbulkan alergi dan beberapa efek samping lain. Efek samping seperti apa yang dapat timbul dari makan timun saat hamil?

  • Risiko alergi

Memang, risiko alergi ini tidak berlaku untuk setiap ibu hamil yang makan timun saat hamil. Namun, dalam beberapa kasus tertentu, ibu yang makan timun saat hamil mengalami reaksi alergi, seperti gatal dan munculnya pembengkakan pada bagian tubuh tertentu.

  • Perut cenderung bergas

Makan timun saat hamil dapat meningkatkan risiko perut bergas. Biasanya, perut bergas ini ditandai dengan sendawa dalam intensitas yang cukup sering dan timbulnya rasa tidak nyaman pada sistem pencernaan.

  • Risiko mengalami keracunan

Makan timun saat hamil tidak disarankan, karena memang timun memiliki kandungan yang berisiko berubah menjadi racun, seperti cucurbitacins dan tetracyclic triterpenoids, yang dapat mengancam nyawa jika dikonsumsi dalam porsi yang berlebihan.

  • Keinginan untuk selalu buang air kecil

Efek samping lain dari makan timun saat hamil, yaitu memicu keinginan untuk selalu buang air. Bukan tanpa alasan, timun memang memiliki kandungan air yang tinggi, sehingga jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak, berisiko membuat ibu hamil lebih sering buang air kecil.

  • Memicu hiperkalemia

Hiperkalemia adalah sebutan untuk kondisi yang merujuk pada tingginya kadar kalium dalam darah. Hiperkalemia biasanya ditandai dengan perut kembung dan kram perut. Dalam kasus tertentu, hiperkalemia dapat mengganggu fungsi ginjal. 

Lalu, apakah ada cara aman untuk makan timun saat hamil?

Jika memang dokter memperbolehkan ibu hamil mengonsumsi timun, tentunya dokter telah menetapkan porsi aman timun yang dapat dimakan. Selain itu, ibu hamil juga perlu berhati-hati sebelum makan timun, seperti mencuci dan mengupas timun terlebih dulu. Ibu hamil perlu menghindari untuk makan timun yang dijual secara potongan. Pasalnya, timun dalam kondisi ini memiliki risiko kontaminasi zat atau mikroba berbahaya yang cukup tinggi.

Ketika timun telah dicuci dan dikupas, pastikan bahwa timun tersebut dipotong terlebih dulu, sehingga ibu hamil dapat memerhatikan porsi timun yang disantap. Umumnya, makan timun saat hamil dijadikan sebagai pendamping santapan berat, sebagai snack atau smoothies

Khusus untuk ibu hamil dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti di bawah ini, makan timun saat hamil sangat tidak direkomendasikan, karena dapat memperparah kondisi kesehatan.

  • Mengalami penyakit asam lambung
  • Pielonefritis atau infeksi pada ginjal
  • Gastritis
  • Hepatitis
  • Kolitis
  • Nefritis kronis yang merupakan peradangan pada unit fungsional ginjal.
Categories
Kesehatan Wanita

Waspada Keputihan Berwarna Kuning Saat Mengandung Bisa Jadi Tanda Penyakit

Ibu hamil biasanya memang mengalami keputihan, namun apakah normal jika keputihan berwarna kuning? Selama periode mengandung, produksi hormon estrogen dalam tubuh ibu hamil meningkat, sehingga tidak heran jika vagina menjadi lebih lembab. Dalam kondisi normal, keputihan berwarna bening atau putih susu dan memiliki sedikit bau.

Namun, terdapat kasus lainnya, yang mana sebagian ibu hamil mengalami keputihan berwarna kuning. Keputihan ini sering kali disertai oleh bau yang tidak mengenakkan, rasa gatal, maupun gejala adanya gangguan kesehatan lain di sekitar area kemaluan.

Keputihan berwarna kuning dapat jadi tanda adanya gangguan kesehatan tertentu

Anda perlu waspada jika mengalami keputihan berwarna kuning, terutama ketika sedang mengandung. Pasalnya, jika sang ibu mengalami gangguan kesehatan, kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan janin juga.

Di bawah ini terdapat beberapa kemungkinan penyebab keputihan berwarna kuning yang dialami oleh ibu hamil:

  • Infeksi klamidia

Pernah mendengar tentang klamidia? Klamidia adalah salah satu jenis penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri. Penyebaran infeksi ini terjadi ketika berhubungan seksual lewat penetrasi vagina, secara anal, maupun oral.

Beberapa wanita yang mengalami infeksi klamidia, tidak memiliki gejala yang signifikan. Namun, terdapat pula Sebagian wanita yang memiliki gejala keputihan berwarna kuning disertai dengan bau menyengat, rasa nyeri di sekitar perut bagian bawah, keinginan untuk terus buang air kecil, dan rasa tidak nyaman ketika berhubungan seksual.

Jika infeksi klamidia tidak diatasi, kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi kehamilan, seperti persalinan secara prematur, berat bayi lahir yang cukup rendah, atau ketuban pecah lebih awal. Selain itu, bayi juga berisiko terkena infeksi paru-paru dan mata.

  • Infeksi jamur

Pada dasarnya, ketika dalam kondisi mengandung, keseimbangan pH vagina menjadi terganggu, sehingga memicu pertumbuhan infeksi jamur. Kondisi ini kemudian akan menyebabkan keputihan berwarna kuning dengan tekstur yang tebal serupa dengan keju cottage, dan tidak berbau.

Gejala yang mungkin dirasakan, antara lain rasa gatal di sekitar area vagina, kemerahan atau pembengkakan pada area vulva, hingga adanya sensasi terbakar ketika buang air kecil atau saat berhubungan intim.

  • Gonore

Seorang wanita yang sedang mengandung tidak menutup kemungkinan akan mengalami gonore. Gonore adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri. Pada sebagian wanita, gonore tidak menimbulkan gejala apa pun, namun dalam kasus tertentu, seorang wanita dapat mengalami demam, pembengkakan pada vulva, intensitas buang air kecil yang meningkat, sensasi terbakar ketika buang air kecil, hingga nyeri ketika berhubungan intim.

  • Vaginosis bakterialis

Kondisi ini terjadi karena adanya ketidakseimbangan bakteri yang ada dalam vagina. Persisnya, jumlah bakteri jahat lebih banyak jika dibanding dengan jumlah bakteri baik. Kondisi ini dapat memicu produksi keputihan berwarna kuning yang disertai rasa gatal, bau, sensasi terbakar ketika buang air kecil, dan rasa tidak nyaman di sekitar area vagina.

Jika dibiarkan, vaginosis bakterialis dapat berisiko menyebabkan endometritis atau peradangan dinding rahim akibat infeksi, persalinan prematur, ketuban pecah lebih awal, berat bayi lahir di bawah standar, hingga korioamnionitis.

  • Trikomoniasis

Satu lagi penyebab terjadinya keputihan berwarna kuning, yaitu trikomoniasis. Termasuk ke dalam salah satu penyakit menular seksual, trikomoniasis disebabkan oleh parasit protozoa Trichomonas vaginallis. Gejala yang mungkin muncul, antara lain keputihan berwarna kuning dengan bau tidak sedap, kemerahan di sekitar area vagina, hingga rasa tidak nyaman ketika buang air kecil dan berhubungan intim.

Dalam kasus yang tidak diatasi, trikomoniasis memicu kelahiran prematur dengan berat bayi lahir di bawah standar normal.