Category Penyakit

Obat Saraf Kejepit Apa Yang Dapat Meredakan Nyeri?

Obat syaraf kejepit sangat beragam, mulai dari suntikan steroid hingga obat antidepresan.

Banyak orang yang sering mengalami saraf kejepit sehingga perlu ditangani dengan obat untuk meredakan nyeri yang terjadi pada tubuh. Saraf kejepit merupakan kondisi ketika saraf menerima banyak tekanan dari tulang, kartilago (tulang rawan), otot, bahkan tendon. Tekanan tersebut menyebabkan nyeri, kesemutan, bahkan mati rasa. Orang-orang perlu menggunakan obat saraf kejepit untuk mencegah hal tersebut terjadi.

Saraf kejepit terjadi disebabkan oleh cedera, radang sendi pada pergelangan tangan, kegemukan, kegiatan atau hobi yang dilakukan secara berlebihan, dan pekerjaan berat yang dilakukan secara terus menerus. Obat saraf kejepit dapat mencegah terjadinya gangguan pada saraf.

Obat Saraf Kejepit

Kerusakan yang terjadi oleh saraf kejepit bervariasi, bisa ringan atau berat. Tidak hanya itu, saraf kejepit juga mengakibatkan rasa sakit dalam jangka pendek atau jangka panjang. Jika Anda mengalami hal serupa, Anda tidak perlu khawatir, karena ada berbagai pengobatan yang dapat dilakukan untuk mencegah hal tersebut terjadi. Obat saraf kejepit dapat dilakukan dengan cara berikut:

  • Kortikosteroid oral

Anda dapat konsumsi obat saraf kejepit kortikosteroid oral untuk meredakan nyeri atau pembengkakan pada tubuh. Obat saraf kejepit kortikosteroid yang diresepkan dokter mengandung kortison, hidrokortison, dan prednison.

Tidak hanya terdapat kandungan tersebut, obat saraf kejepit kortikosteroid juga dapat digunakan dalam bentuk krim, suntikan, inhaler, atau intranasal. Namun dokter meresepkan obat tersebut dalam bentuk tablet, kapsul, atau sirup.

  • Nonsteroid antiinflamasi

Obat saraf kejepit nonsteroid antiinflamasi (NSAID) meliputi ibuprofen, aspirin, dan naproxen. Obat tersebut dapat digunakan untuk meredakan rasa nyeri atau pembengkakan pada tubuh. Obat saraf kejepit nonsteroid antiinflamasi dapat diperoleh melalui resep dokter.

  • Suntikan steroid

Cara lain yang dapat dilakukan untuk meredakan saraf kejepit adalah dengan suntikan steroid. Suntikan steroid mampu meredakan pembengkakan pada tubuh dan menyembuhkan saraf-saraf yang mengalami peradangan.

  • Narkotika

Narkotika merupakan cara lain yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya saraf kejepit. Obat narkotika juga dapat diresepkan oleh dokter untuk meredakan rasa nyeri yang parah, namun penggunaannya hanya dalam waktu singkat.

Obat narkotika bekerja dengan reseptor rasa sakit yang dialami pada bagian otak agar dapat menghilangkan rasa nyeri yang menjadi gejala utama saraf kejepit.

  • Antikonvulsan

Obat antikonvulsan atau obat antikejang merupakan salah satu obat yang dapat digunakan untuk mencegah rasa nyeri pada tubuh akibat kerusakan saraf. Penggunaan obat antikonvulsan berlaku pada orang yang menderita epilepsi.

Anda bisa mendapatkan obat antikonvulsan melalui resep dokter. Di sisi lain, orang-orang percaya bahwa mereka menggunakan obat antikonvulsan berupa gabapentin atau pregabalin untuk mencegah nyeri akibat kerusakan saraf.

  • Antidepresan

Obat antidepresan adalah salah satu obat yang dapat digunakan jika Anda mengalami saraf kejepit. Obat antidepresan tidak hanya untuk mencegah depresi, namun juga untuk mencegah kerusakan saraf pada tubuh.

Contoh obat antidepresan yang dapat digunakan adalah amitriptyline, nortriptyline, doxepin, dan desipramine. Anda juga dapat menggunakan obat antidepresan melalui resep dokter.

  • Alat penyangga

Alat penyangga dapat digunakan bagi orang yang mengalami bagian tubuh seperti tangan yang tidak dapat digerakkan, yang disebabkan oleh saraf kejepit. Dokter akan membantu orang meredakan masalah ini dengan alat penyangga supaya otot dapat beristirahat.

  • Terapi fisik

Terapi fisik juga dapat dilakukan bagi orang yang mengalami saraf kejepit agar dapat mencegah nyeri pada tubuh. Tidak hanya itu, terapi fisik juga dapat membantu orang-orang meregangkan dan memperkuat otot mereka.

  • Operasi

Jika cara di atas tidak efektif, maka seseorang perlu menjalankan operasi untuk menghilangkan tekanan pada saraf dan memberikan ruang untuk saraf.

Read More

Demam Tifoid: Bagaimana Cara Mengatasinya?

Demam tifoid, atau umumnya lebih dikenal sebagai tipes, merupakan gejala yang yang terjadi pada organ tubuh yang disebabkan oleh infeksi. Gejala tersebut dapat menyebar dengan cara menular. Ada pula infeksi muncul dari makanan yang terkontaminasi.

Infeksi yang menyebabkan demam tifoid adalah bakteri Salmonella typhi. Bakteri tersebut menyebarkan racun pada makanan. Jika manusia mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi oleh bakteri tersebut, maka akan mengalami demam tifoid yang berlangsung antara 5 hari hingga satu bulan. Gejala tersebut mungkin bisa berlangsung lebih lama dari satu bulan tergantung seberapa parah yang dialami manusia dan jika mengalami gejala lain.

Setiap tahun, demam tifoid terjadi pada setidaknya 5 juta orang di seluruh dunia per tahun. Demam tersebut tersebar ke Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh) dan di negara Asia lain, namun jarang terjadi di negara-negara Asia Timur, Afrika, Amerika Selatan, dan Eropa Barat.

Gejala Demam Tifoid

Demam tifoid mengakibatkan gejala sebagai berikut:

  • Demam tinggi yang bisa mencapai 40 Celsius.
  • Kelelahan.
  • Batuk-batuk.
  • Sakit kepala.
  • Sakit perut, diare, atau sembelit.
  • Ruam.
  • Berat badan berkurang.

Jika gejala tersebut tidak diobati dengan tepat, kemungkinan kondisi yang dialami antara lain mengigau, tubuh berbaring tanpa gerakan, serta mata setengah tertutup.

Penyebab Demam Tifoid

Bakteri Salmonella typhi tidak hanya menyebar melalui makanan dan menyebabkan tipes pada tubuh, melainkan memberikan dampak yang serius pada usus. Selain bakteri Salmonella typhi, demam tifoid disebabkan oleh penyalahgunaan obat.

Obat antibiotik tidak berpengaruh banyak dalam proses penyembuhan secara total, namun hanya berperan sebagai pencegahan. Obat tersebut justru membiarkan bakteri yang ada di dalam tubuh (khususnya pada usus atau empedu) tersebar selama bertahun-tahun. Hal tersebut terjadi pada orang yang mengalami penyakit kronik dimana mereka akan mengeluarkan bakteri ketika buang air besar walaupun sembuh dari demam tifoid.

Cara Mengatasi Demam Tifoid

Walaupun demam tifoid merupakan gejala yang serius, perawatannya cukup mudah. Anda bisa dapat melakukan pencegahan dengan cara berikut:

  • Cuci tangan dengan sabun supaya mencegah infeksi masuk ke dalam tubuh.
  • Konsumsi makanan dan minuman yang bebas dari bakteri.
  • Vaksin sangat direkomendasikan jika Anda pergi ke tempat yang memiliki risiko tinggi terhadap demam tifoid.
  • Beristirahat yang cukup di rumah sampai pulih untuk mencegah penularan terhadap orang lain.

Selain itu, Anda bisa menggunakan obat untuk mencegah demam tersebut. Obat yang sebaiknya digunakan antara lain obat antibiotik doxycycline, chloramfenicol, dan ciprofloxacin (alternatif bagi orang yang tidak bisa menggunakan obat doxycycline). Anda akan sembuh dalam waktu 2 hingga 3 hari jika mengkonsumsi obat tersebut.

Jika Anda merasa kesulitan untuk memilih perawatan mana yang lebih tepat untuk mencegah demam tersebut, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter. Pada umumnya dokter akan melakukan diagnosa terlebih dahulu jika Anda memiliki gejala lain.

Dokter akan melakukan beberapa tes seperti menguji sampel urin untuk mengindikasi jika ada bakteri atau tidak. Jika ada, kemungkinan Anda mengalami demam tifoid. Setelah itu, dokter akan menanyakan beberapa hal mengenai kondisi pada tubuh Anda jika Anda mengkonsumsi makanan tertentu misalnya, atau jika sudah menggunakan vaksin atau belum.

Selain itu, dokter juga akan menanyakan beberapa pertanyaan sebagai berikut:

  • Apakah Anda mengalami gejala lain sehingga mengakibatkan demam tifoid?
  • Sudah berapa lama gejala demam tifoid dialami?
  • Kapan gejala demam tifoid terjadi?
  • Jika Anda bepergian ke suatu tempat, di mana tempat yang menungkinkan Anda mengalami demam tifoid?
  • Apakah Anda mengkonsumsi obat lain?
Read More

Pengobatan Alternatif Rumahan Kalazion

Pernahkah ada benjolan tumbuh di kelopak mata Anda, seperti bintitan namun tidak terasa sakit bila disentuh? Benjolan tersebut disebut dengan kalazion. Benjolan kalazion tumbuh secara perlahan, berisi nanah, dan biasanya hanya akan bertahan selama beberapa minggu.

Dalam kasus umum, kalazion akan hilang dengan sendirinya tanpa perlu perawatan medis. Kalazion dapat terbentuk ketika kelenjar meibom yang ada pada ujung kelopak mata menjadi tersumbat atau mengalami peradangan. Kelenjar ini memproduksi minyak yang digunakan untuk melubrikasi dan melembapkan mata. Pada artikel ini, kami akan membahas kalazion dengan lebih mendalam serta perawatan rumahan apa saja yang bisa Anda lakukan untuk mempercepat proses penyembuhan kalazion.

Perbedaan kalazion dan bintitan

Terlihat serupa namun tak sama, itulah kalazion dan bintitan. Sama seperti kalazion, bintitan juga merupakan benjolan yang tumbuh di daerah sekitar mata. Walaupun orang-orang sering menggunakan kedua istilah itu secara bergantian, kalazion dan bintitan merupakan 2 jenis luka yang berbeda. Kalazion terjadi akibat kelenjar minyak yang tersumbat. Sementara bintitan terjadi akibat kelenjar minyak atau folikel bulu mata yang terinfeksi. Meskipun demikian, terkadang kalazion dapat berkembang menjadi bintitan. Ada dua jenis bintitan, internal dan external. Bintitan internal berkembang di bagian dalam kelopak mata dan sering terjadi akibat infeksi pada kelenjar minyak. Sementara itu, bintitan eksternal terjadi di bagian bawah bulu mata dan biasanya terjadi akibat infeksi pada folikel rambut.

Perbedaan yang paling mencolok antara kalizion dan bintitan adalah kalazion tidak meninggalkan rasa sakit. Apabila disentuh, bintitan akan menyebabkan rasa nyeri dan bahkan membuat mata terasa berat dan gatal. Sementara kalazion tidak sakit bila disentuh.

Pengobatan alternatif rumahan kalizion

Kalizion biasanya hampir tidak membutuhkan perawatan medis apapun, dan akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu. Yang perlu Anda lakukan sambil menunggu kalizion sembuh dengan sendirinya adalah menghindari memencet atau menyentuhnya, karena dapat meningkatkan risiko infeksi mata. Agar nanah dapat terkuras secara alami serta proses penyembuhan dapat menjadi lebih cepat, ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan seperti:

  • Menggunakan kompres hangat

Menggunakan kompres hangat pada daerah yang terinfeksi dapat membantu melunakkan minyak yang mengeras dan menyumbat saluran kelenjar. Hal ini akan membantu saluran untuk terbuka dan menguras nanah dengan lebih efektif, yang mana dapat meringankan iritasi. Untuk menggunakan kompres hangat, basahi handuk atau kain yang bersih dengan air hangat, peras air berlebih, dan letakkan pada mata yang sakit selama 10 hingga 15 menit. Basahi kembali kompres untuk menjaganya tetap hangat. Lakukan hal ini beberapa kali sehari hingga bengkak hilang atau berkurang.

  • Pijatan lembut

Memijat dengan lembut kelopak mata beberapa menit setiap harinya dapat membantu saluran minyak terkuras dengan lebih efektif. Sebelum melakukan hal ini, pastikan tangan Anda bersih untuk mengurangi risiko infeksi. Saat kalizion mulai terkuras, pastikan daerah tersebut tetap bersih dan hindari menyentuhnya menggunakan tangan kosong.

  • Obat bebas

Beberapa produk obat bebas yang dapat Anda temukan di apotek mungkin dapat membantu mengurangi gejala kalizion. Obat-obatan ini dapat mengurangi iritasi, mencegah infeksi, dan mempercepat proses penyembuhan. Apoteker akan memberikan saran produk mana yang tepat untuk Anda.

Untuk mencegah ketidaknyamanan dan iritasi di kemudian hari, akan lebih baik untuk menghindari menggunakan makeup mata atau kontak lensa hingga kalizion benar-benar sembuh. Kunjungi dokter apabila kalizion tidak sembuh dalam 1 bulan.

Read More

Memahami Efek Samping Kemoterapi

Kemoterapi atau yang lebih sering disebut “kemo” adalah penggunaan obat untuk membunuh atau memperlambat pertumbuhan sel kanker. Lalu apa efek samping kemoterapi bagi Anda yang menjalankan pengobatannya?

Obat-obatan kemoterapi disebut sitotoksik, yang berarti toksik bagi sel (cyto).  Beberapa obat kemoterapi berasal dari sumber alami seperti tanaman, sementara obat kemo lainnya dapat juga dibuat sepenuhnya di laboratorium.

Ada banyak jenis obat kemoterapi, dan masing-masing jenis menghancurkan atau mengecilkan sel kanker dengan cara yang berbeda.

Obat kemoterapi yang Anda miliki tergantung pada jenis kanker, karena berbagai obat kemo bekerja pada berbagai jenis kanker yang berbeda. Terkadang kemoterapi adalah satu-satunya perawatan yang diperlukan untuk penderita kanker, tetapi sangat mungkin juga untuk Anda menjalani operasi, terapi radiasi atau terapi obat lain.

Kemoterapi sendiri dapat digunakan untuk berbagai macam alasan, yaitu:

  1. Untuk mencapai remisi atau penyembuhan

Dalam banyak kasus, kemoterapi memperlihatkan tanda-tanda berkurangnya gejala kanker atau bahkan hilang. Perawatan kemo ini bisa disebut sebagai kemoterapi kuratif.

  1. Untuk membantu perawatan lain

Terkadang kemoterapi diberikan sebelum atau sesudah perawatan lain.  Jika digunakan sebelumnya (terapi neoadjuvant), tujuannya adalah untuk mengurangi kanker sehingga pengobatan lain yang dijalankan lebih efektif. Jika kemoterapi diberikan setelah perawatan lain (terapi adjuvant), bertujuan adalah untuk menyingkirkan sel-sel kanker yang tersisa. Kemoterapi sendiri sering diberikan bersamaan dengan terapi radiasi agar terapi radiasi berjalan lebih efektif.

  1. Untuk mengendalikan kanker

Bahkan jika kemoterapi tidak dapat mencapai remisi atau respons lengkap, kemo sendiri dapat digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan kanker dan menghentikan penyebarannya ke tubuh Anda untuk jangka waktu tertentu. Kemoterapi ini dapat disebut sebagai kemoterapi paliatif.

  1. Untuk meringankan gejala kanker

Kemoterapi dapat meningkatkan kualitas hidup Anda, dengan cara mengecilkan kanker yang menyebabkan rasa sakit dan gejala lainnya. Kemoterapi ini juga disebut sebagai kemoterapi paliatif.

  1. Untuk menghentikan kanker datang kembali

Kemoterapi sendiri dapat berlanjut selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah remisi. Hal ini bertujuan untuk mencegah atau menunda kanker datang kembali.

Pengobatan kemoterapi mempengaruhi semua sel yang tumbuh dan mampu membelah dengan cepat di dalam tubuh Anda. Termasuk sel-sel kanker dan sel-sel normal yang ada di tubuh Anda, seperti sel-sel darah baru di sumsum tulang atau sel-sel di mulut, perut, kulit, rambut dan organ reproduksi lainnya. Ketika kemoterapi merusak sel-sel normal, hal inilah yang disebut dengan efek samping kemoterapi.

Sebenarnya sulit untuk memprediksi efek samping apa yang akan Anda dapatkan dari kemoterapi.

Berikut adalah daftar dari efek samping yang umum terjadi ketika Anda menjalankan kemoterapi:

  • Kelelahan

Kelelahan adalah salah satu efek samping kemoterapi yang paling umum terjadi. Banyak orang yang menjalani perawatan merasa lelah atau lelah dengan sangat mudah selama menjalankan aktivitas sehari-hari.

  • Merasa mual dan muntah

Banyak orang yang menjalani kemoterapi akan mengalami periode dimana Anda merasa mual atau bahkan muntah. Dokter Anda dapat memberi Anda obat anti mual untuk mengurangi atau mencegah hal ini terjadi.

  • Rambut rontok

Rambut rontok termasuk efek samping kemoterapi yang umum terjadi, meskipun tidak terjadi pada semua orang. Jika Anda kehilangan rambut, biasanya hal ini akan mulai terlihat dalam beberapa minggu setelah sesi perawatan pertama Anda.

Biasanya Anda akan kehilangan banyak rambut setelah satu atau dua bulan menjalani kemoterapi.

Biasanya Anda akan kehilangan rambut dari bagian kepala Anda, tetapi sangat mungkin juga bila Anda kehilangan rambut dari bagian tubuh lain, termasuk lengan, kaki, dan wajah.

Pada umumnya, rambut Anda akan mulai tumbuh kembali setelah perawatan kemoterapi Anda selesai. Tetapi terkadang, rambut yang tumbuh kembali memiliki warna yang sedikit berbeda atau mungkin lebih bergelombang atau lebih lurus dari biasanya.

  • Infeksi

Kemoterapi dapat mengurangi kemampuan tubuh Anda untuk melawan infeksi. Hal ini membuat Anda lebih mungkin terkena infeksi yang bisa membuat Anda sakit parah.

  • Anemia

Kemoterapi menurunkan jumlah sel darah merah, yang membawa oksigen ke seluruh tubuh Anda. Jika jumlah sel darah merah Anda turun dan menjadi terlalu rendah, Anda akan mengalami anemia.

  • Memar dan berdarah

Kemoterapi dapat mengurangi jumlah sel yang disebut trombosit dalam darah Anda. Jika jumlah trombosit di tubuh Anda rendah, Anda akan memiliki kulit yang mudah memar, mimisan parah dan gusi berdarah.

  • Sakit di sekitar mulut

Terkadang kemoterapi dapat membuat lapisan mulut terasa sakit dan teriritasi.  Ini dikenal sebagai mucositis.

  • Kehilangan nafsu makan

Anda mungkin kehilangan nafsu makan saat Anda menjalani kemoterapi, tetapi Anda harus mencoba untuk banyak minum cairan dan makan apa saja yang Anda bisa.

  • Masalah tidur

Beberapa orang yang menjalani kemoterapi mengalami kesulitan tidur, atau terbangun di tengah malam dan tidak dapat kembali tidur. Hal ini dikenal sebagai insomnia.

  • Masalah emosional

Kemoterapi dapat menjadi pengalaman yang membuat Anda frustasi, stres, dan traumatis. Sangat wajar untuk merasa cemas dan bertanya-tanya apakah perawatan yang Anda lakukan akan berhasil. Stres dan kecemasan juga dapat meningkatkan risiko Anda terkena depresi.

  • Perubahan kulit dan kuku

Beberapa obat kemoterapi dapat menyebabkan perubahan sementara pada kulit Anda. Misalnya, kulit Anda menjadi kering, sedikit berubah warna secara tidak merata, Anda lebih sensitif terhadap sinar matahari, dan gatal. Sebelum perawatan kemoterapi Anda dimulai, biasanya dokter atau perawat Anda akan mendiskusikan efek samping kemoterapi yang harus Anda waspadai atau laporkan. Anda juga dapat berdiskusi mengenai bagaimana cara mencegah atau mengendalikan efek samping dari kemoterapi tersebut, dan siapa yang harus dihubungi jika Anda memerlukan bantuan.

Read More
obat perut kembung

Perut Kembung? Atasi dengan Obat Berikut!

Beberapa obat yang dijual bebas memang boleh digunakan sewaktu-waktu tanpa resep dokter. Secara spesifik, berikut adalah daftar obat untuk mengatasi kembung beserta kandungan yang ada di dalamnya.  

Obat-obatan untuk Mengatasi Kembung

Perut yang kembung terkadang butuh penanganan cepat. Untuk itulah beberapa obat untuk mengatasi kembung bisa Anda temukan di toko obat tanpa resep dokter. Berikut adalah daftar obat untuk mengatasi kembung.

Antacid

Antacid menetralkan kadar asam dalam perut Anda. Beberapa kandungan antacid antara lain simethicone – bahan yang mengurangi gas dalam perut. Selain itu, ada pula antacid yang menyebabkan diare seperti magnesium dan aluminum.

Berikut adalah contoh Antacid yang biasa ditemui:

  • Alka-Seltzer
  • Milk of Magnesia
  • Alternagel, Amphojel
  • Gaviscon, Gelusil, Maalox, Mylanta, Rolaids
  • Pepto-Bismol
  • Tums

Antacid harus dikonsumsi sesuai dengan cara pakainya. Antacid yang berbentuk tablet harus dikunyah terlebih dahulu. Namun Antacid juga memiliki efek samping seperti diare, kram perut dan konstipasi jika dikonsumsi dalam jangka panjang.

Acid Reducer

Ada dua macam acid reducer yang beredar di pasaran, yaitu Histamine antagonis (H2 Blocker) dan Proton pump inhibitor (PPIs)

Berikut adalah contoh H2 Blocker:

  • Nizatidine (Axid AR)
  • Famotidine (Pepcid AC)
  • Cimetidine (Tagamet HB)
  • Ranitidine (Zantac)

H2 Blocker dan PPIs juga tersedia dalam dosis yang tinggi dan biasanya diresepkan oleh dokter.

Lansoprazole dan Omeprazole merupakan jenis proton pump yang dapat dibeli tanpa resep dokter namun penggunaannya disarankan tidak lebih dari dua minggu. Obat-obatan untuk mengatasi kembung ini dapat diresepkan oleh dokter dalam dosis yang tinggi.

Kombinasi Antacid dan Acid reducer

Pepcid Complete mengombinasikan antacid dengan acid reducer yang berperan penting untuk menetralkan asam sekaligus mengurangi rasa panasnya. Sementara itu, Zegerid OTC merupakan kombinasi dari PPIs dan sodium bikarbonat.

Lalu, manakah yang cocok untuk mengatasi kembung?

Obat-obatan di atas dapat mengatasi perut kembung sesuai dengan kondisi. Namun untuk kondisi yang parah, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. Jika dalam waktu dua minggu, kembung tak kunjung sembuh, kemungkinan besar Anda membutuhkan dosis yang lebih tinggi yang hanya bisa diberikan oleh dokter.

Read More
cara mencegah gerd

7 Cara Mencegah GERD Agar Anda Tetap Nyaman Beraktivitas

Pernah merasakan sensasi panas di dada? Kondisi yang disebut heartburn ini bisa dialami siapa saja. Namun ketika Anda terlalu sering mengalaminya (setidaknya dua kali seminggu selama beberapa minggu), atau ketika heartburn mulai mengganggu kehidupan Anda sehari-hari, dokter mungkin akan mengatakan bahwa Anda mengalami penyakit GERD.

Berikut adalah langkah-langkah mudah untuk mencegah GERD.

1. Diet untuk mencegah GERD

Cara pertama yang harus dilakukan untuk mencegah penyakit GERD adalah dengan mengubah pola makan Anda. Coba praktikkan tips berikut ini.

  • Makan dalam porsi kecil namun sering. Misalkan Anda sering makan tiga kali sehari dalam jumlah besar. Coba ubah pola tersebut dengan cara makan lima kali dalam porsi yang dikurangi. Hal ini mencegah perut Anda mendorong makanan dan asam lambung ke atas.
  • Hindari makanan yang memicu penyakit GERD, misalnya buah sitrus, peppermint, cokelat, tomat, bawang putih dan makanan berlemak dapat memicu produksi asam lambung.
  • Hindari konsumsi alkohol, kafein, dan minuman bersoda.
  • ●     Mencatat makanan yang Anda konsumsi dalam buku. Dengan memiliki daftar makanan yang masuk ke perut Anda, Anda dapat mengetahui secara pasti kebiasaan makan Anda, serta apa saja yang dapat memicu terjadinya penyakit GERD dan mulai menguranginya.

2. Mencegah GERD dengan mengubah pola tidur

  • Jangan makan sesaat sebelum tidur. Pastikan makanan terakhir yang Anda konsumsi adalah tiga jam sebelum tidur. Efek gravitasi dapat membuat asam lambung Anda naik saat Anda berbaring tidur.
  • Naikkan bantalan di kepala hingga lebih tinggi dari perut. Hal ini juga berkaitan dengan gravitasi yang mencegah naiknya asam lambung ke kerongkongan.

3. Berhenti merokok

Merokok merupakan salah satu pemicu GERD. Selain tidak baik untuk kesehatan, merokok dapat membuat nyeri dada semakin parah. Sebagai gantinya, Anda bisa mengunyah permen karet. Aktivitas mengunyah dapat memproduksi air liur yang berfungsi menetralkan asam lambung.

4. Turunkan berat badan

Obesitas dapat menyebabkan gejala GERD. Lemak pada perut cenderung memberikan tekanan yang bisa mendorong asam lambung ke kerongkongan. Konsultasikan diet Anda dengan dokter agar dapat menurunkan berat badan dengan cara yang sehat

5. Hindari obat-obatan tertentu

Obat untuk mengatasi rasa sakit memang dijual bebas di toko namun aspirin dan ibuprofen bisa memperparah keadaan Anda. Jika Anda harus minum obat penghilang rasa sakit, pilih parasetamol. Bila Anda merasa bahwa obat-obatan yang Anda konsumsi mungkin menyebabkan GERD, bicarakan dengan dokter. Jangan langsung berhenti minum obat, atau justru minum obat lambung tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

6. Yoga

Yoga dan tai chi dapat membantu meredakan gejala GERD sekaligus menghilangkan stres.

7. Gunakan pakaian yang longgar

Pakaian yang ketat terutama yang menekan area perut dapat mendorong asam lambung naik ke kerongkongan

Read More
cara mencegah sakit perut

10 Penyebab Sakit Perut yang Harus Anda Waspadai

Jika Anda memiliki masalah pada pencernaan, sakit perut pasti sudah menjadi hal yang biasa Anda alami. Namun, perlu diingat bahwa sakit perut dapat disebabkan oleh banyak hal. Pahami sepuluh penyebab perut sakit berikut ini agar Anda dapat menghindarinya di kemudian hari.

1. Masalah Perut
Pada dasarnya, sakit perut menandakan adanya masalah pada perut Anda. Tiap orang memiliki kondisi dan gejala yang berbeda. Itulah sebabnya untuk mengetahui penyebab sakit perut, segera konsultasikan kondisi Anda pada dokter sesegera mungkin.

2. Gastritis
Cairan dalam lambung yang membantu mencerna makanan memiliki sifat asam. Terkadang cairan pencernaan ini melewati pelindung di perut Anda dan mengiritasi lapisannya. Iritasi atau radang lambung ini juga banyak disebut sebagai gastritis. Kondisi seperti ini dapat disebabkan oleh bakteri, penggunaan obat penghilang rasa sakit secara teratur seperti ibuprofen, terlalu banyak mengonsumsi alkohol, atau bahkan stres. Untuk mengatasinya, Anda dapat meminum obat antasid atau resep yang dijual bebas. Namun, pastikan untuk memeriksakan diri ke dokter untuk menghindari perdarahan atau sakit maag.

3. Virus Perut
Virus perut atau yang juga dikenal sebagai flu perut merupakan sebuah infeksi virus di usus. Gejala yang ditimbulkan dapat berupa diare, kram, mual, dan muntah. Infeksi virus ini dapat menular dari orang lain yang sedang terinfeksi atau makanan yang terkontaminasi. Untuk mengobatinya tidak diperlukan perawatan khusus karena dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, konsultasikan pada dokter jika Anda demam, muntah, dehidrasi, atau tampak darah pada muntahan dan feses.

4. Keracunan Makanan
Bakteri, virus, dan parasit dalam makanan dapat mengakibatkan keracunan makanan. Gejala dari keracunan makanan dapat berupa diare, mual, dan muntah. Kondisi ini dapat terjadi saat Anda mengonsumsi makanan yang tidak bersih atau terkontaminasi kuman-kuman. Anda tidak perlu khawatir sebab keracunan makanan biasanya dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, segera periksakan diri ke dokter jika Anda mengalami dehidrasi, terdapat darah pada muntah atau feses, atau Anda mengalami diare yang parah selama lebih dari 3 hari.

5. Sindrom Iritasi Usus
Penyakit pencernaan yang memengaruhi kondisi usus besar ini dapat menyebabkan kram, kembung, dan lendir di feses. Selain itu, Anda juga akan mengalami gangguan pencernaan berupa diare dan sembelit secara bergantian. Kondisi ini dapat disebabkan oleh banyak hal. Namun, kebanyakan dari mereka yang mengalaminya memiliki masalah pada pola makanan, stres, hormon, dan infeksi. Anda dapat memeriksakan diri ke dokter untuk mengurangi gejala serta mendapatkan arahan mengenai perubahan pola makan, gaya hidup, atau perawatan yang tepat untuk Anda.


6. Intoleransi laktosa
Laktosa adalah kandungan gula dalam susu dan beragam produk olahan susu lainnya. Jika Anda tidak memiliki enzim laktase yang cukup, tubuh Anda dapat mengalami kesulitan saat mencerna laktosa dari susu. Hal ini bisa menyebabkan diare, perut bergas, kembung, dan sakit perut. Kondisi ini sebenarnya tidak ada obatnya, tetapi Anda bisa mengatasinya dengan membatasi asupan susu harian Anda. Anda disarankan untuk mengonsumsi produk susu bebas laktosa, atau minum pil Lactaid yang dijual bebas.

7. Alergi Makanan
Perut yang terasa sakit tanpa sebab dapat menjadi tanda adanya respons alergi terhadap makanan tertentu. Alergi ini terjadi saat tubuh salah mengartikan makanan yang dianggap berbahaya padahal tidak. Selain sakit perut, gejala alergi ini juga dapat diikuti dengan kesemutan dan bengkak di area mulut dan tenggorokan. Dalam kasus yang serius, alergi makanan dapat menyebabkan syok hingga kematian jika tidak segera ditangani dengan pemberian obat yang disebut epinefrin. Makanan-makanan yang biasanya memicu alergi adalah kerang, kacang-kacangan, ikan, telur, dan susu.

8. Radang usus buntu
Usus buntu merupakan bagian organ berbentuk jari yang ditemukan pada bagian usus besar di sebelah kanan bawah perut. Sebenarnya, usus buntu ini tidak diketahui pasti kerja dan manfaatnya. Namun, jika mengalami peradangan atau terinfeksi, bagian usus ini harus segera diangkat. Jika pecah, usus buntuk yang mengalami peradangan dapat menyebarkan bakteri ke seluruh perut. Gejala radang usus buntu ini diawali dengan nyeri pada pusar yang menyebar ke bawah dan ke kanan perut. Segera konsultasikan diri ke dokter jika Anda merasa mengalami radang usus buntu.

9. Sembelit
Olahraga, banyak minum air, dan konsumsi makanan yang mengandung banyak serat, seperti plum dan biji-bijian, dapat mengatasi masalah perut yang satu ini. Akan tetapi, buang air besar kurang dari tiga kali dalam seminggu dengan kondisi yang sulit, bisa diperkirakan Anda mengalami sembelit yang serius. Segera temui dokter jika Anda mengalaminya, apalagi jika feses yang keluar berwarna hitam atau/dan berdarah.

10. Pankreatitis
Terakhir, masalah perut yang kerap menimbulkan rasa sakit adalah radang pankreas. Organ yang membantu tubuh Anda memproses gula dan mencerna makanan dapat meradang dan menimbulkan gejala mual dan muntah disertai rasa sakit perut di bagian atas setelah makan. Pada beberapa kasus ringan, pasien dengan pankreatitis dapat sembuh dengan sendirinya. Namun, untuk kasus-kasus parah dapat berbahaya. Biasanya dokter akan meminta Anda untuk berhenti makan selama satu atau dua hari, dan memberi Anda obat penghilang rasa sakit. Jika itu tidak membuat kondisi membaik, Anda mungkin perlu perawatan intensif di rumah sakit untuk mendapatkan nutrisi dan cairan infus.

Read More
cara mencegah plak gigi

Apa Saja Penyebab Plak Gigi?

Coba sentuh gigi dengan jari Anda. Lapisan yang dapat Anda rasakan di gigi adalah plak (plaque). Plak merupakan lapisan lengket yang selalu terbentuk secara alami pada gigi. Lapisan itu tak terlihat, tapi Anda dapat merasakannya. Terutama setelah sekian lama tidak menggosok gigi. Plak harus disingkirkan dari gigi, karena menjadi tempat berkumpulnya bakteri.

Plak Terbentuk dari Sisa Makanan

Plak terbentuk ketika makanan yang mengandung karbohidrat dan gula, seperti susu, minuman bersoda, kue, dan permen, sering tertinggal di gigi. Bakteri yang hidup di rongga mulut berkembang biak pada makanan dan minuman tersebut dan mengeluarkan zat asam. Seiring berjalannya waktu, zat asam yang semakin banyak itu merusak email (enamel), lapisan pelindung gigi. Akibatnya, terjadi pengeroposan gigi. Plak juga bisa terbentuk di akar gigi, dalam gusi, dan merusak tulang penyangga gigi. Kerusakan ini bersifat permanen.

Dampak Plak Terhadap Kesehatan Gigi dan Mulut

Selain membuat membuat gigi menguning dan menyebabkan bau napas, tumpukan plak dapat memicu karang gigi dan gusi bengkak atau gingivitis. Lebih jauh lagi, plak bisa mengakibatkan berbagai penyakit berat seperti gangguan jantung dan demensia, alias gangguan ingatan. Sebab, bakteri berlebihan di rongga mulut memaksa sistem imun tubuh terus bekerja keras. Dampaknya sama dengan orang yang menderita flu terus-menerus sepanjang tahun, dan memaksa sistem imun tubuhnya bekerja tanpa henti.

Plak pun sebenarnya merupakan penyebab gigi tanggal. Jadi, tanggalnya gigi bukan disebabkan oleh usia lanjut. Para dokter gigi bahkan meyakini setiap orang bisa mempertahankan giginya sampai usia lanjut, jika dirawat dengan baik.

Bagaimana mencegah pembentukan plak?

Plak tumbuh di tempat-tempat yang sulit terjangkau sikat gigi. Bisa di antara gigi hingga bawah gusi. Maka untuk mencegahnya, tidak ada cara selain memastikan kebersihan rongga mulut dengan langkah-langkah berikut ini.

  • Sikat gigi Anda paling tidak dua kali sekali. Pilih sikat dengan bulu yang halus supaya tidak merusak gusi.
  • Gunakan floss atau benang gigi setidaknya sekali sehari, untuk mengurangi bakteri penyebab plak dan penyakit gusi, yang tidak tersapu sikat gigi.
  • Gunakan obat kumur antibakteri, juga untuk mematikan bakteri.
  • Lakukan pemeriksaan di dokter gigi setiap enam bulan sekali. Meski tidak merasakan ada keluhan pada gigi dan gusi Anda, dokter akan memastikan kesehatan mulut dan melakukan pembersihan.
  • Untuk memastikan terbebas dari pengeroposan, dokter dapat merekomendasikan penggunaan sealant, lapisan plastik tipis yang dipasang pada permukaan gigi untuk mencegahnya dari kerusakan.
  • Atur pola makan dengan membatasi cemilan. Jika butuh makanan ringan, pilihlah yang bebas gula, seperti buah-buahan segar dan sayuran. Sejumlah sayuran, seperti seledri, bisa membantu air liur menetralisir zat asam penyebab plak.

Plak bisa berwarna kekuningan dan bisa juga sama sekali tidak berwarna sehingga sulit terlihat.

Jika plak tidak dibersihkan dalam jangka waktu tertentu, antara 24-72 jam, mineral dalam air liur yang tersimpan di lapisan plak bisa mengeras. Pengerasan ini disebut tartar. Tartar berwarna kekuningan atau kecokelatan dan menempel kuat di gigi. Berbeda dari plak, yang bisa dibersihkan sendiri di rumah, pengangkatan tartar hanya dapat dilakukan dokter gigi. Tartar, juga disebut kalkulus, dialami 68 persen orang dewasa. Kemungkinan terjadinya tartar lebih tinggi pada orang dengan behel, perokok, yang memiliki bergigi tak teratur, serta lansia.

Read More
cara memilih obat batuk

Panduan Memilih Obat Batuk yang Efektif Hentikan Batuk Lebih Cepat

Terdapat beberapa jenis pengobatan untuk meredakan batuk yang dibedakan berdasarkan penyebabnya. Ada pereda batuk karena dingin atau bronkitis, penekan batuk (antitusif), pengencer batuk dahak, dan krim untuk dioleskan pada kulit. Biasanya krim semacam itu mengandung menthol yang berkhasiat melegakan tenggorokan serta pernapasan secara efektif. Untuk lebih jelas mengenai panduan obat batuk, simak penjelasan berikut!

Cara Menekan Batuk

Dextrometophan biasanya digunakan sebagai formula khusus untuk membasmi batuk tanpa dahak. Kandungan dextrometorphan biasanya dicantumkan pada bungkus atau botol obat yang Anda beli. Pengobatan yang lebih efektif biasanya menggunakan codeine yaitu obat untuk mengobati nyeri ringan atau cukup parah.

Dalam kasus tertentu, codeine bisa digunakan untuk meredakan batuk. Obat ini bekerja pada sistem saraf pusat untuk mengurangi nyeri dan rasa sakit yang dialami pasien. Oleh karena itu, mengonsumsi obat ini membutuhkan resep dokter.

Bagaimana Ekspektoran Bekerja?

Batuk berdahak sebenarnya berdampak positif untuk mengeluarkan kotoran dari paru-paru. Namun, sering kali jenis batuk ini mengganggu aktivitas sehari-hari. Meredakan batuk berdahak dengan menggunakan ekspektoran adalah salah satu panduan obat batuk paling umum.

Selain mengonsumsi ekspektoran, dokter biasanya menyarankan untuk banyak minum air putih. Air putih dapat membantu mengencerkan dahak sehingga batuk berdahak bisa lebih cepat teratasi.

Pengobatan Luar untuk Batuk

Pengobatan yang dilakukan dari luar untuk mengatasi batuk bisa menggunakan krim atau lotion dengan kandungan tertentu. Kandungan di dalamnya berfungsi melegakan pernapasan dan tenggorokan. Sebut saja formula Menthol dan Camphor yang biasa terdapat pada krim pelega tenggorokan. Oleskan krim pada bagian dada, leher, dan hirup aromanya. Dengan begitu, pernapasan akan terasa lebih lega.

Kombinasi Pengobatan yang Disarankan

Panduan obat batuk yang biasa disarankan adalah penggunaan obat yang disesuaikan dengan tipe batuk yang dialami. Secara umum obat batuk diberikan dengan mengombinasikan bersama pereda nyeri, anti alergi, dan pelega hidung tersumbat. Kombinasi tersebut akan secara efektif mengobati batuk lebih cepat. 

Selain mengikuti panduan obat batuk sesuai jenisnya, dokter juga akan menyarankan gaya hidup sehat bagi Anda yang sering mengalami batuk. Beberapa pola hidup sehat yang bisa dilakukan, antara lain

  • Mengonsumsi makanan dengan nutrisi seimbang
  • Menghentikan kebiasaan merokok dan menghindari asap rokok
  • Melakukan terapi pengobatan khusus bagi Anda yang memang memiliki riwayat asma atau emphysema
  • Penggunaan dextrometorphan dengan obat dekongestan akan berisiko pada perubahan tekanan darah. Jadi, Anda bisa menghentikan pengobatan sementara bila tekanan darah sedang meningkat atau memiliki gangguan hati.

Untuk mengobati batuk memang bisa mengikuti panduan obat batuk yang disarankan sesuai jenisnya. Namun, bila penyakit tidak kunjung sembuh hingga berminggu-minggu, maka sebaiknya konsultasikan kepada dokter untuk memeriksakan kondisi Anda. Pengobatan lebih dini dilakukan agar bisa mencegah kondisi yang lebih parah.

Read More