Categories
Penyakit

Beberapa Penyakit Zoonosis Bawaan Ternak selain Brucellosis

Salah satu mata pencaharian yang populer di dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan di Indonesia adalah berternak. Hal ini dapat dibuktikan dari banyaknya rumah-rumah dengan kandang ternak yang menyertai, utamanya di daerah pedesaan. Mereka harus waspada, karena di sana tersimpan banyak risiko kesehatan, salah satunya brucellois.

Dunia medis mengidentifikasi penyakit yang berasal dari hewan sebagai zoonosis. Zoonosis disebabkan oleh patogen seperti bakteri, virus, fungi, serta parasit seperti protozoa dan cacing. Diperkirakan lebih dari 60% penyakit infeksius pada manusia tergolong zoonosis.

Brucellois merupakan salah salah satu penyakit zoonosis karena penderitanya terinfeksi oleh bakteri dari genus Brucella, tepatnya Brucella sp. Bakteri ini merupakan bakteri gram negatif. Penyakit brucellosis biasanya menyerang hewan ternak, seperti kambing dan sapi. Bakteri Brucella dapat keluar dari tubuh sapi atau kambing melalui berbagai macam cairan, seperti susu, urine, cairan plasenta, dan cairan lainnya.

Penularan brucellosis kepada manusia terjadi melalui produk hasil hewan ternak yang sudah terkontaminasi dan kemudian dikonsumsi oleh manusia. Ada kemungkinan pula bekateri ini menginfeksi melalui udara yang sudah terkontaminasi. Melakukan kontak langsung dengan hewan ternak yang terinfeksi juga dapat membuat seseorang tertular penyakit ini.

Jika tertular, gejala umum yang muncul antara lain tubuh merasa lemas, pusing, berat badan turun, nafsu makan menurun, sakit punggung, seluruh sendi tubuh terasa sakit, demam, menggigil, dan berkeringat di malam hari. Saat melakukan pemeriksaan, mereka yang terserang bisanya diketahui mengalami pembesaran organ hati dan limpa.

Meski jarang terjadi dan cenderung sulit berkembang di Indonesia, jika dibandingkan dengan penyakit zoonosis dari hewan ternak lain, brucellois tetap tak dapat dipandang sebelah mata. Adapun beberapa penyakit dari hewan ternak lain yang lebih populer di Indonesia adalah:

  • Flu Burung

Flu burung atau yang dikenal juga sebagai avian influenza adalah salah satu jenis infeksi virus yang umumnya ditemukan pada unggas. Namun, virus yang menyebabkan flu burung dapat bermutasi dan menyebar ke manusia. Apabila manusia terinfeksi virus flu burung, gejala yang tampak akan bervariasi, mulai dari yang ringan hingga parah dan berpotensi membahayakan nyawa.

Penularan ini biasanya terjadi akibat adanya kontak dengan burung yang terinfeksi virus atau proses memasak unggas yang kurang matang. Penyakit ini tidak dapat ditularkan antarmanusia, tapi para ahli mengkhawatirkan adanya kemungkinan virus flu burung dapat bermutasi lagi dan bisa tersebar dengan mudah ke sesama manusia.

Tercatat sejak tahun 2003 Indonesia merupakan negara dengan jumlah korban terbanyak akibat wabah flu burung. Status Kondisi Luar Biasa atau KLB untuk flu burung kerap ditetapkan oleh pemerintah. Penyakit ini tidak bisa dianggap sepele karena dalam kasus penularan flu burung terhadap manusia di Indonesia, hampir 80 persen berakhir dengan kematian.

  • Anthrax

Seseorang yang terinfeksi anthrax biasanya akan mengalami benjolan yang melepuh berwarna biru gelap, adanya reaksi peradangan dari luka, sakit perut, mual, muntah, diare, demam, nyeri otot dan dada, serta dapat terjadi kematian dalam waktu 24 jam.

Dilihat dari gejalanya, penyakit yang disebabkan oleh bakteri dari genus yang sama dengan penyebab brucellosis, khususnya Bacillus anthracis, ini merupakan kondisi yang serius dan tak dapat disepelekan.

Hampir semua hewan ternak dari jenis mamalia, seperti sapi, kambing, domba, kerbau, dan babi berpotensi terserang anthrax. Hewan yang terinfeksi bisa ditandai dari gelagat dan tanda-tandanya, seperti demam, gelisah, dan mengeluarkan darah dari hidung dan dubur. Jika sudah sangat parah hewan akan mengalami pembengkakan dan mati mendadak.

Menurut data Kemenkes RI, pada tahun 2010-2016 terdapat 172 kasus anthrax di mana 97%nya merupakan anthrax kulit, sementara 3%nya merupakan anthrax pencernaan. Penderita anthrax sebanyak 61% adalah laki-laki dan sisanya wanita. Adapun menurut kelompok umur, 93% penyakit ini menyerang kelompok umur di atas 15 tahun.

  • Taeniasis dan Sistiserkosis

Satu penyakit yang umum ditularkan ke manusia dari hewan ternak adalah taeniasis. Kondisi ini dapat dimengerti sebagai infeksi usus. Taenasis disebabkan oleh cacing pita dewasa yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui konsumsi daging sapi atau daging babi yang kurang matang, atau bahkan mentah.

Kondisi daging seperti ini masih terdapat bentuk kistik yang berisi larva cacing pita. Larva kistik yang masuk ke dalam tubuh manusia akan berkembang biak di otot, kulit, mata, dan sistem saraf pusat. Penderita taeniasis akan mengeluarkan telur cacing melalui tinja yang kemudian dapat mengontaminasi lingkungan.

Selain itu, telur cacing yang tertelan dapat berkembang di susunan saraf pusat pada otak dan mengakibatkan epilepsi. Kondisi ini disebut sistikersosis. Penyakit ini ditandai dengan kejang-kejang, sakit kepala berlebihan, demensia, meningitis, kebutaan, atau hidrosefalus.

***

Itulah beberapa penyakit yang biasa datang dari hewan ternak. Jika Anda merupakan salah seorang yang kerap berinteraksi dengan hewan ternak, selalu perhatikan kondisi hewan dan kebersihan lingkungan. Jangan sampai Anda atau keluarga terserang brucellosis atau penyakit yang berasal dari ternak lainnya.

Categories
Penyakit

Screening Retina

Screening retina adalah prosedur pemeriksaan yang menggunakan laser atau kamera digital untuk memeriksa bagian belakang mata pasien. Prosedur tersebut juga dikenal sebagai optical coherence tomography (OCT) atau digital retinal imaging (DRI).

Prosedur ini tentunya dilakukan oleh dokter spesialis mata, dan prosedurnya melibatkan pengambilan gambar digital yang dapat menunjukkan kondisi retina, saraf optik, makula, diskus optikus, dan pembuluh darah pada mata.

Retina merupakan lapisan yang terletak di belakang mata dan merupakan tempat cahaya dan gambar masuk. Saraf optik berada pada diskus optikus dimana kegunaannya adalah untuk memberikan gambar yang ditangkap retina ke otak. Makula merupakan bagian retina yang memiliki kegunaan dalam penglihatan pusat yang tajam.

Dengan screening retina, dokter dapat memperoleh gambar retina dengan lebih jelas dibandingkan dengan pemeriksaan biasa yang menggunakan alat oftalmoskop. Pemeriksaan ini akan membantu dokter mendeteksi jika terdapat gangguan pada mata pasien.

Pada screening retina, gelombang cahaya digunakan untuk memperoleh gambar retina. Selain itu, dokter juga dapat melihat lapisan retina dan mengukur ketebalan pada tiap lapisan. Pengukuran pada retina penting untuk keperluan diagnosis.

Setelah melakukan diagnosis, dokter dapat menentukan pengobatan seperti apa untuk pasien, untuk mengobati gangguan yang terkait dengan mata seperti retinopati diabetik dan degenerasi makula.

Mengapa Screening Retina Perlu Dilakukan?

Pada umumnya, screening retina dapat digunakan bagi pasien yang mengalami kondisi sebagai berikut:

  • Diabetes melitus

Diabetes melitus dapat merusak pembuluh darah pada retina manusia karena tingginya gula darah. Jika gula darah tidak dikontrol dengan baik, maka dapat berpotensi mengakibatkan kebutaan. Pasien yang berusia 12 tahun ke atas yang terkena kondisi seperti ini perlu melakukan screening retina setahun sekali.

  • Glaukoma

Glaukoma juga dapat menyebabkan kebutaan karena cairan menumpuk di bagian depan mata dan meningkatkan tekanan dalam bola mata.

  • Degenerasi makula

Degenerasi makula adalah gangguan yang menyebabkan pandangan kabur seiring bertambahnya usia. Degenerasi makula terjadi karena adanya pertumbuhan pembuluh darah abnormal di bawah retina.

  • Toksisitas retina

Toksisitas retina dipengaruhi oleh obat radang sendi yang disebut sebagai hydroxychloroquine yang bersifat toksik dan dapat merusak retina.

  • Kondisi mata yang buruk

Dokter juga menyarankan pasien untuk melakukan screening retina jika gangguan pada mata terjadi tanpa penyebab.

Diagnosis

Jika Anda mengalami gangguan di bagian mata dan membutuhkan screening retina, Anda dapat melakukannya. Sebelum melakukan screening retina, dokter perlu memberikan obat tetes mata untuk melebarkan pupil di bagian mata. Pelebaran pupil akan memudahkan dokter untuk memeriksa retina.

Prosedur screening retina berlangsung sekitar 5 menit yang meliputi:

  • Dahi dan dagu pasien yang diposisikan pada penyangga khusus.
  • Pasien akan diminta untuk membuka mata selebar mungkin.
  • Alat laser digunakan untuk meninjau mata pasien.
  • Gambar yang dihasilkan alat tersebut ditampilkan di layar komputer agar dokter dapat menganalisanya.

Hasil Screening Retina

Hasil screening retina dapat membantu dokter melihat tanda-tanda yang terjadi pada mata pasien yang sebelumnya tidak terdeteksi, yang tampil di layar komputer. Setelah itu, dokter akan menunjukkan hasilnya kepada pasien. Jika hasilnya buruk, maka dokter akan menangani pasien melalui prosedur medis lain, sesuai kondisi pasien.

Kesimpulan

Pada umumnya, screening retina merupakan salah satu prosedur medis yang aman untuk dilakukan. Prosedurnya mudah untuk dilakukan. Sebelum melakukan screening retina, Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. Setelah melakukan screening retina, hasilnya juga belum tentu menunjukkan bahwa kondisi mata pasien normal.

Categories
Penyakit

4 Jenis Obat yang Diteliti untuk Menyembuhkan Corona

Berdasarkan uji coba, Remdesivir meningkatkan waktu pemulihan pasien Covid-19 sekitar 31% lebih cepat

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau FDA disebut telah menyetujui pemakaian obat darurat yang diproduksi Gilead Sciences yakni Remdesivir untuk pasien virus corona yang sudah mengalami gejala parah. Ternyata terdapat empat jenis obat corona yang masih dalam tahap penelitian selain remdisivir untuk menyembuhkan pasien yang terinfeksi virus corona.

Sebagai salah satunya Remdesivir merupakan anti-virus yang ditujukan untuk mengurangi waktu pemulihan pasien COVID-19. Melalui pemerintah Amerika Serikat, perusahaan yang membuat Remdesivir telah mengekspor obat tersebut dan telah tersedia untuk para pasien virus corona yang berada di Amerika Serikat.

Jenis Obat Corona

  • Remdesivir

Remdesivir juga merupakan vaksin antivirus yang dikembangkan perusahaan bioteknologi yang berbasis di Amerika Serikat, Gilead Sciences. Obat ini memiliki kode pengembangan GS-5734 yang masuk ke analog nukleotida, termasuk disintesis dalam beberapa turunan ribosa. Vaksin ini diklaim mampu mengobati pasien COVID-19 yang telah dalam kondisi parah.

Pasien yang mengonsumsi obat ini disebut memiliki waktu pemulihan yang lebih cepat ketimbang pasien COVID-19 yang hanya mendapatkan plasebo. Hal ini diungkap oleh The US National Institute of Allergy and Infections Disease (NIAID). Remdesivir adalah produk analog nukleotida yang juga dipakai untuk mengatasi infeksi Ebola dan virus marburg di tahun 2013-2016.

Pasien dalam kondisi parah disebut bisa sembuh empat hari lebih cepat dari waktu pemulihan pada umumnya. Rata-rata waktu pemulihan pasien yang menggunakan obat ini adalah 11 hari, sementara itu pasien yang tidak menggunakan obat ini dan hanya diobati dengan plasebo harus membutuhkan waktu pemulihan selama 15 hari.

  • Avigan

Obat ini juga disebut dengan nama Favipiravir merupakan obat dari Jepang yang dikembangkan oleh perusahaan Jepang, Fujifilm Toyama Chemical. Avigan diproduksi oleh Zheijang Hisun Pharmaceutical, pada dasarnya obat ini dikembangkan untuk mengobati virus influenza, meski demikian obat ini diakui sebagai pengobatan eksperimental untuk pasien corona.

Live Science menyebutkan bahwa Avigan secara khusus dipakai untuk mengobati virus RNA, virus SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab adanya COVID-19 dengan materi genetik utama RNA dan bukan DNA. Avigan ini disebut mampu menghentikan replikasi virus dengan melumpuhkan enzim yang dinamakan RNA Polimerase.

  • Klorokuin

Memiliki nama ilmiah chloroquine, Klorokuin merupakan senyawa sintetis atau kimiawi yang memiliki struktur sama dengan quine sulfate. Bahan kimia ini berasal dari ekstrak kulit batang pohon kina yang merupakan obat bagi pasien penyakit malaria. Klorokuin menjadi salah satu senyawa yang dianggap sebagai kandidat antivirus untuk COVID-19.

Penelitian terkait penggunaan obat ini telah dilakukan di Wuhan Insitute of Virology dari Chinese Academy of Sciences. Dilakukan oleh ahli virologi Manli Wang bersama tim dan telah dipublikasikan dalam Jurnal Nature. Hasil dari penelitian awal terhadap antivirus ini adalah klorokuin mampu menghambat kemampuan virus baru menginfeksi dan tumbuh di dalam sel.

  • Lopinavir dan Ritonavir

Selain Remdesivir dan Klorokuin sebagai obat yang direkomendasikan WHO, terdapat satu jenis obat lain lagi yang tengah diuji sebagai obat corona. Lopinavir dan ritonavir menjadi obat kombinasi yang disebut bekerja dengan baik untuk melawan virus HIV. Kombinasi kedua obat ini bekerja langsung pada protein inti virus yang dinamakan dengan protoase.

Lopinavir dan ritonavir merupakan kombinasi dua bahan yang sama seperti remdesivir, yakni kedua bahan ini berhasil diuji pada tikus. Obat ini dengan remdesivir sama-sama mampu untuk melawan SARS-CoV-2 di tikus meskipun belum dilakukan pengujian pada manusia.

Categories
Penyakit

Isolasi Mandiri: Untuk Melawan Corona

Virus Corona atau Covid-19 telah menyebar ke setiap negara. Jumlah kasus yang terjadi di dunia telah meningkat secara signifikan, yaitu sebanyak lebih dari 1 juta kasus. Hal tersebut juga mengakibatkan kematian sebanyak lebih dari 53.000 orang, namun lebih dari 213.000 orang dinyatakan sembuh. Oleh karena itu, setiap negara melakukan sejumlah upaya untuk memerangi virus Corona, salah satunya adalah dengan menghimbau masyarakat agar melakukan isolasi mandiri.

Setiap orang diminta untuk melakukan isolasi mandiri sebagai salah satu cara untuk mencegah penyebaran virus Corona. Sejumlah aktivitas di luar rumah dibatasi dan orang-orang hanya diperbolehkan untuk keluar rumah jika mereka ada keperluan mendesak seperti membeli obat untuk menjaga kesehatan tubuh.

Beberapa negara seperti Italia, Perancis, dan Malaysia telah menerapkan ‘Lockdown’ sebagai upaya untuk mencegah penularan virus Corona, sementara Indonesia telah menerapkan Social Distancing atau Physical Distancing.

Meskipun demikian, Indonesia juga merupakan salah satu negara yang terdapat banyak kasus, yaitu sebanyak 1.790 orang per 3 April 2020. Hal tersebut juga mengakibatkan 170 orang meninggal dunia, namun 112 orang telah dinyatakan sembuh.

Oleh karena itu, isolasi mandiri adalah langkah yang perlu diambil setiap masyarakat untuk melindungi diri dari virus Corona. Hal tersebut juga merupakan cara efektif untuk membantu mengurangi jumlah pasien sehingga mereka tidak perlu dirawat di rumah sakit.

Isolasi mandiri tidak hanya berlaku bagi pasien yang mengalami gejala ringan atau berat, yang disebabkan oleh virus Corona, namun juga berlaku bagi orang-orang yang tidak memiliki gejala apapun.

Untuk mencegah penularan virus Corona, Anda sebaiknya isolasi diri di rumah selama setidaknya 2 minggu, dan selama Anda menjaga diri di rumah, berikut adalah beberapa hal yang sebaiknya Anda lakukan:

  • Lakukan aktivitas sesuai kebutuhan baik kebutuhan sekolah maupun pekerjaan.
  • Anda boleh keluar rumah jika ada keperluan mendesak seperti membeli makanan atau obat.
  • Jika Anda keluar, Anda sebaiknya gunakan masker untuk mencegah penularan melalui udara.
  • Anda sebaiknya juga membawa hand sanitizer jika Anda tidak menemukan tempat untuk mencuci tangan.
  • Anda sebaiknya hindari kerumunan, dan jaga jarak setidaknya 1 meter dari orang lain.
  • Jika Anda bertemu seseorang, Anda sebaiknya jangan berjabat tangan.
  • Cucilah tangan dengan rutin selama 20 detik dengan sabun. Anda bisa menggunakan hand sanitizer sebagai penggantinya.
  • Masaklah makanan dengan matang.
  • Konsumsi makanan yang sehat seperti buah-buahan dan sayur.
  • Berolahraga secara rutin.
  • Minum obat untuk menjaga daya tahan tubuh.

Isolasi mandiri penting untuk dilakukan, supaya Anda dapat melindungi diri dari virus Corona. Selama Anda berada di rumah, Anda sebaiknya ikuti perkembangan yang terjadi mengenai virus Corona. Pastikan Anda tidak mendengar atau melihat informasi yang salah atau hoaks.

Jika Anda telah melakukan isolasi mandiri di rumah, namun gejala yang dialami semakin memburuk, maka Anda perlu dibawa ke rumah sakit agar dokter dapat mendiagnosis kondisi Anda. Setelah mengetahui kondisi Anda dan jika gejala yang Anda alami disebabkan oleh Corona, maka Anda perlu dikarantina di rumah sakit rujukan selama 14 hari. Selama Anda dikarantina, Anda sebaiknya gunakan waktu untuk beristirahat agar kondisinya semakin membaik.

Selain itu, ada baiknya jika Anda isolasi mandiri di rumah dan tidak mudik ke luar kota walaupun Presiden Jokowi memutuskan untuk tidak melarang mudik. Jika Anda mudik ke luar kota, maka Anda akan berada dalam daftar ODP (orang dalam pemantauan).

Categories
Penyakit

Obat Saraf Kejepit Apa Yang Dapat Meredakan Nyeri?

Obat syaraf kejepit sangat beragam, mulai dari suntikan steroid hingga obat antidepresan.

Banyak orang yang sering mengalami saraf kejepit sehingga perlu ditangani dengan obat untuk meredakan nyeri yang terjadi pada tubuh. Saraf kejepit merupakan kondisi ketika saraf menerima banyak tekanan dari tulang, kartilago (tulang rawan), otot, bahkan tendon. Tekanan tersebut menyebabkan nyeri, kesemutan, bahkan mati rasa. Orang-orang perlu menggunakan obat saraf kejepit untuk mencegah hal tersebut terjadi.

Saraf kejepit terjadi disebabkan oleh cedera, radang sendi pada pergelangan tangan, kegemukan, kegiatan atau hobi yang dilakukan secara berlebihan, dan pekerjaan berat yang dilakukan secara terus menerus. Obat saraf kejepit dapat mencegah terjadinya gangguan pada saraf.

Obat Saraf Kejepit

Kerusakan yang terjadi oleh saraf kejepit bervariasi, bisa ringan atau berat. Tidak hanya itu, saraf kejepit juga mengakibatkan rasa sakit dalam jangka pendek atau jangka panjang. Jika Anda mengalami hal serupa, Anda tidak perlu khawatir, karena ada berbagai pengobatan yang dapat dilakukan untuk mencegah hal tersebut terjadi. Obat saraf kejepit dapat dilakukan dengan cara berikut:

  • Kortikosteroid oral

Anda dapat konsumsi obat saraf kejepit kortikosteroid oral untuk meredakan nyeri atau pembengkakan pada tubuh. Obat saraf kejepit kortikosteroid yang diresepkan dokter mengandung kortison, hidrokortison, dan prednison.

Tidak hanya terdapat kandungan tersebut, obat saraf kejepit kortikosteroid juga dapat digunakan dalam bentuk krim, suntikan, inhaler, atau intranasal. Namun dokter meresepkan obat tersebut dalam bentuk tablet, kapsul, atau sirup.

  • Nonsteroid antiinflamasi

Obat saraf kejepit nonsteroid antiinflamasi (NSAID) meliputi ibuprofen, aspirin, dan naproxen. Obat tersebut dapat digunakan untuk meredakan rasa nyeri atau pembengkakan pada tubuh. Obat saraf kejepit nonsteroid antiinflamasi dapat diperoleh melalui resep dokter.

  • Suntikan steroid

Cara lain yang dapat dilakukan untuk meredakan saraf kejepit adalah dengan suntikan steroid. Suntikan steroid mampu meredakan pembengkakan pada tubuh dan menyembuhkan saraf-saraf yang mengalami peradangan.

  • Narkotika

Narkotika merupakan cara lain yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya saraf kejepit. Obat narkotika juga dapat diresepkan oleh dokter untuk meredakan rasa nyeri yang parah, namun penggunaannya hanya dalam waktu singkat.

Obat narkotika bekerja dengan reseptor rasa sakit yang dialami pada bagian otak agar dapat menghilangkan rasa nyeri yang menjadi gejala utama saraf kejepit.

  • Antikonvulsan

Obat antikonvulsan atau obat antikejang merupakan salah satu obat yang dapat digunakan untuk mencegah rasa nyeri pada tubuh akibat kerusakan saraf. Penggunaan obat antikonvulsan berlaku pada orang yang menderita epilepsi.

Anda bisa mendapatkan obat antikonvulsan melalui resep dokter. Di sisi lain, orang-orang percaya bahwa mereka menggunakan obat antikonvulsan berupa gabapentin atau pregabalin untuk mencegah nyeri akibat kerusakan saraf.

  • Antidepresan

Obat antidepresan adalah salah satu obat yang dapat digunakan jika Anda mengalami saraf kejepit. Obat antidepresan tidak hanya untuk mencegah depresi, namun juga untuk mencegah kerusakan saraf pada tubuh.

Contoh obat antidepresan yang dapat digunakan adalah amitriptyline, nortriptyline, doxepin, dan desipramine. Anda juga dapat menggunakan obat antidepresan melalui resep dokter.

  • Alat penyangga

Alat penyangga dapat digunakan bagi orang yang mengalami bagian tubuh seperti tangan yang tidak dapat digerakkan, yang disebabkan oleh saraf kejepit. Dokter akan membantu orang meredakan masalah ini dengan alat penyangga supaya otot dapat beristirahat.

  • Terapi fisik

Terapi fisik juga dapat dilakukan bagi orang yang mengalami saraf kejepit agar dapat mencegah nyeri pada tubuh. Tidak hanya itu, terapi fisik juga dapat membantu orang-orang meregangkan dan memperkuat otot mereka.

  • Operasi

Jika cara di atas tidak efektif, maka seseorang perlu menjalankan operasi untuk menghilangkan tekanan pada saraf dan memberikan ruang untuk saraf.

Categories
Penyakit

Demam Tifoid: Bagaimana Cara Mengatasinya?

Demam tifoid, atau umumnya lebih dikenal sebagai tipes, merupakan gejala yang yang terjadi pada organ tubuh yang disebabkan oleh infeksi. Gejala tersebut dapat menyebar dengan cara menular. Ada pula infeksi muncul dari makanan yang terkontaminasi.

Infeksi yang menyebabkan demam tifoid adalah bakteri Salmonella typhi. Bakteri tersebut menyebarkan racun pada makanan. Jika manusia mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi oleh bakteri tersebut, maka akan mengalami demam tifoid yang berlangsung antara 5 hari hingga satu bulan. Gejala tersebut mungkin bisa berlangsung lebih lama dari satu bulan tergantung seberapa parah yang dialami manusia dan jika mengalami gejala lain.

Setiap tahun, demam tifoid terjadi pada setidaknya 5 juta orang di seluruh dunia per tahun. Demam tersebut tersebar ke Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh) dan di negara Asia lain, namun jarang terjadi di negara-negara Asia Timur, Afrika, Amerika Selatan, dan Eropa Barat.

Gejala Demam Tifoid

Demam tifoid mengakibatkan gejala sebagai berikut:

  • Demam tinggi yang bisa mencapai 40 Celsius.
  • Kelelahan.
  • Batuk-batuk.
  • Sakit kepala.
  • Sakit perut, diare, atau sembelit.
  • Ruam.
  • Berat badan berkurang.

Jika gejala tersebut tidak diobati dengan tepat, kemungkinan kondisi yang dialami antara lain mengigau, tubuh berbaring tanpa gerakan, serta mata setengah tertutup.

Penyebab Demam Tifoid

Bakteri Salmonella typhi tidak hanya menyebar melalui makanan dan menyebabkan tipes pada tubuh, melainkan memberikan dampak yang serius pada usus. Selain bakteri Salmonella typhi, demam tifoid disebabkan oleh penyalahgunaan obat.

Obat antibiotik tidak berpengaruh banyak dalam proses penyembuhan secara total, namun hanya berperan sebagai pencegahan. Obat tersebut justru membiarkan bakteri yang ada di dalam tubuh (khususnya pada usus atau empedu) tersebar selama bertahun-tahun. Hal tersebut terjadi pada orang yang mengalami penyakit kronik dimana mereka akan mengeluarkan bakteri ketika buang air besar walaupun sembuh dari demam tifoid.

Cara Mengatasi Demam Tifoid

Walaupun demam tifoid merupakan gejala yang serius, perawatannya cukup mudah. Anda bisa dapat melakukan pencegahan dengan cara berikut:

  • Cuci tangan dengan sabun supaya mencegah infeksi masuk ke dalam tubuh.
  • Konsumsi makanan dan minuman yang bebas dari bakteri.
  • Vaksin sangat direkomendasikan jika Anda pergi ke tempat yang memiliki risiko tinggi terhadap demam tifoid.
  • Beristirahat yang cukup di rumah sampai pulih untuk mencegah penularan terhadap orang lain.

Selain itu, Anda bisa menggunakan obat untuk mencegah demam tersebut. Obat yang sebaiknya digunakan antara lain obat antibiotik doxycycline, chloramfenicol, dan ciprofloxacin (alternatif bagi orang yang tidak bisa menggunakan obat doxycycline). Anda akan sembuh dalam waktu 2 hingga 3 hari jika mengkonsumsi obat tersebut.

Jika Anda merasa kesulitan untuk memilih perawatan mana yang lebih tepat untuk mencegah demam tersebut, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter. Pada umumnya dokter akan melakukan diagnosa terlebih dahulu jika Anda memiliki gejala lain.

Dokter akan melakukan beberapa tes seperti menguji sampel urin untuk mengindikasi jika ada bakteri atau tidak. Jika ada, kemungkinan Anda mengalami demam tifoid. Setelah itu, dokter akan menanyakan beberapa hal mengenai kondisi pada tubuh Anda jika Anda mengkonsumsi makanan tertentu misalnya, atau jika sudah menggunakan vaksin atau belum.

Selain itu, dokter juga akan menanyakan beberapa pertanyaan sebagai berikut:

  • Apakah Anda mengalami gejala lain sehingga mengakibatkan demam tifoid?
  • Sudah berapa lama gejala demam tifoid dialami?
  • Kapan gejala demam tifoid terjadi?
  • Jika Anda bepergian ke suatu tempat, di mana tempat yang menungkinkan Anda mengalami demam tifoid?
  • Apakah Anda mengkonsumsi obat lain?
Categories
Penyakit

Pengobatan Alternatif Rumahan Kalazion

Pernahkah ada benjolan tumbuh di kelopak mata Anda, seperti bintitan namun tidak terasa sakit bila disentuh? Benjolan tersebut disebut dengan kalazion. Benjolan kalazion tumbuh secara perlahan, berisi nanah, dan biasanya hanya akan bertahan selama beberapa minggu.

Dalam kasus umum, kalazion akan hilang dengan sendirinya tanpa perlu perawatan medis. Kalazion dapat terbentuk ketika kelenjar meibom yang ada pada ujung kelopak mata menjadi tersumbat atau mengalami peradangan. Kelenjar ini memproduksi minyak yang digunakan untuk melubrikasi dan melembapkan mata. Pada artikel ini, kami akan membahas kalazion dengan lebih mendalam serta perawatan rumahan apa saja yang bisa Anda lakukan untuk mempercepat proses penyembuhan kalazion.

Perbedaan kalazion dan bintitan

Terlihat serupa namun tak sama, itulah kalazion dan bintitan. Sama seperti kalazion, bintitan juga merupakan benjolan yang tumbuh di daerah sekitar mata. Walaupun orang-orang sering menggunakan kedua istilah itu secara bergantian, kalazion dan bintitan merupakan 2 jenis luka yang berbeda. Kalazion terjadi akibat kelenjar minyak yang tersumbat. Sementara bintitan terjadi akibat kelenjar minyak atau folikel bulu mata yang terinfeksi. Meskipun demikian, terkadang kalazion dapat berkembang menjadi bintitan. Ada dua jenis bintitan, internal dan external. Bintitan internal berkembang di bagian dalam kelopak mata dan sering terjadi akibat infeksi pada kelenjar minyak. Sementara itu, bintitan eksternal terjadi di bagian bawah bulu mata dan biasanya terjadi akibat infeksi pada folikel rambut.

Perbedaan yang paling mencolok antara kalizion dan bintitan adalah kalazion tidak meninggalkan rasa sakit. Apabila disentuh, bintitan akan menyebabkan rasa nyeri dan bahkan membuat mata terasa berat dan gatal. Sementara kalazion tidak sakit bila disentuh.

Pengobatan alternatif rumahan kalizion

Kalizion biasanya hampir tidak membutuhkan perawatan medis apapun, dan akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu. Yang perlu Anda lakukan sambil menunggu kalizion sembuh dengan sendirinya adalah menghindari memencet atau menyentuhnya, karena dapat meningkatkan risiko infeksi mata. Agar nanah dapat terkuras secara alami serta proses penyembuhan dapat menjadi lebih cepat, ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan seperti:

  • Menggunakan kompres hangat

Menggunakan kompres hangat pada daerah yang terinfeksi dapat membantu melunakkan minyak yang mengeras dan menyumbat saluran kelenjar. Hal ini akan membantu saluran untuk terbuka dan menguras nanah dengan lebih efektif, yang mana dapat meringankan iritasi. Untuk menggunakan kompres hangat, basahi handuk atau kain yang bersih dengan air hangat, peras air berlebih, dan letakkan pada mata yang sakit selama 10 hingga 15 menit. Basahi kembali kompres untuk menjaganya tetap hangat. Lakukan hal ini beberapa kali sehari hingga bengkak hilang atau berkurang.

  • Pijatan lembut

Memijat dengan lembut kelopak mata beberapa menit setiap harinya dapat membantu saluran minyak terkuras dengan lebih efektif. Sebelum melakukan hal ini, pastikan tangan Anda bersih untuk mengurangi risiko infeksi. Saat kalizion mulai terkuras, pastikan daerah tersebut tetap bersih dan hindari menyentuhnya menggunakan tangan kosong.

  • Obat bebas

Beberapa produk obat bebas yang dapat Anda temukan di apotek mungkin dapat membantu mengurangi gejala kalizion. Obat-obatan ini dapat mengurangi iritasi, mencegah infeksi, dan mempercepat proses penyembuhan. Apoteker akan memberikan saran produk mana yang tepat untuk Anda.

Untuk mencegah ketidaknyamanan dan iritasi di kemudian hari, akan lebih baik untuk menghindari menggunakan makeup mata atau kontak lensa hingga kalizion benar-benar sembuh. Kunjungi dokter apabila kalizion tidak sembuh dalam 1 bulan.

Categories
Penyakit

Memahami Efek Samping Kemoterapi

Kemoterapi atau yang lebih sering disebut “kemo” adalah penggunaan obat untuk membunuh atau memperlambat pertumbuhan sel kanker. Lalu apa efek samping kemoterapi bagi Anda yang menjalankan pengobatannya?

Obat-obatan kemoterapi disebut sitotoksik, yang berarti toksik bagi sel (cyto).  Beberapa obat kemoterapi berasal dari sumber alami seperti tanaman, sementara obat kemo lainnya dapat juga dibuat sepenuhnya di laboratorium.

Ada banyak jenis obat kemoterapi, dan masing-masing jenis menghancurkan atau mengecilkan sel kanker dengan cara yang berbeda.

Obat kemoterapi yang Anda miliki tergantung pada jenis kanker, karena berbagai obat kemo bekerja pada berbagai jenis kanker yang berbeda. Terkadang kemoterapi adalah satu-satunya perawatan yang diperlukan untuk penderita kanker, tetapi sangat mungkin juga untuk Anda menjalani operasi, terapi radiasi atau terapi obat lain.

Kemoterapi sendiri dapat digunakan untuk berbagai macam alasan, yaitu:

  1. Untuk mencapai remisi atau penyembuhan

Dalam banyak kasus, kemoterapi memperlihatkan tanda-tanda berkurangnya gejala kanker atau bahkan hilang. Perawatan kemo ini bisa disebut sebagai kemoterapi kuratif.

  1. Untuk membantu perawatan lain

Terkadang kemoterapi diberikan sebelum atau sesudah perawatan lain.  Jika digunakan sebelumnya (terapi neoadjuvant), tujuannya adalah untuk mengurangi kanker sehingga pengobatan lain yang dijalankan lebih efektif. Jika kemoterapi diberikan setelah perawatan lain (terapi adjuvant), bertujuan adalah untuk menyingkirkan sel-sel kanker yang tersisa. Kemoterapi sendiri sering diberikan bersamaan dengan terapi radiasi agar terapi radiasi berjalan lebih efektif.

  1. Untuk mengendalikan kanker

Bahkan jika kemoterapi tidak dapat mencapai remisi atau respons lengkap, kemo sendiri dapat digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan kanker dan menghentikan penyebarannya ke tubuh Anda untuk jangka waktu tertentu. Kemoterapi ini dapat disebut sebagai kemoterapi paliatif.

  1. Untuk meringankan gejala kanker

Kemoterapi dapat meningkatkan kualitas hidup Anda, dengan cara mengecilkan kanker yang menyebabkan rasa sakit dan gejala lainnya. Kemoterapi ini juga disebut sebagai kemoterapi paliatif.

  1. Untuk menghentikan kanker datang kembali

Kemoterapi sendiri dapat berlanjut selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah remisi. Hal ini bertujuan untuk mencegah atau menunda kanker datang kembali.

Pengobatan kemoterapi mempengaruhi semua sel yang tumbuh dan mampu membelah dengan cepat di dalam tubuh Anda. Termasuk sel-sel kanker dan sel-sel normal yang ada di tubuh Anda, seperti sel-sel darah baru di sumsum tulang atau sel-sel di mulut, perut, kulit, rambut dan organ reproduksi lainnya. Ketika kemoterapi merusak sel-sel normal, hal inilah yang disebut dengan efek samping kemoterapi.

Sebenarnya sulit untuk memprediksi efek samping apa yang akan Anda dapatkan dari kemoterapi.

Berikut adalah daftar dari efek samping yang umum terjadi ketika Anda menjalankan kemoterapi:

  • Kelelahan

Kelelahan adalah salah satu efek samping kemoterapi yang paling umum terjadi. Banyak orang yang menjalani perawatan merasa lelah atau lelah dengan sangat mudah selama menjalankan aktivitas sehari-hari.

  • Merasa mual dan muntah

Banyak orang yang menjalani kemoterapi akan mengalami periode dimana Anda merasa mual atau bahkan muntah. Dokter Anda dapat memberi Anda obat anti mual untuk mengurangi atau mencegah hal ini terjadi.

  • Rambut rontok

Rambut rontok termasuk efek samping kemoterapi yang umum terjadi, meskipun tidak terjadi pada semua orang. Jika Anda kehilangan rambut, biasanya hal ini akan mulai terlihat dalam beberapa minggu setelah sesi perawatan pertama Anda.

Biasanya Anda akan kehilangan banyak rambut setelah satu atau dua bulan menjalani kemoterapi.

Biasanya Anda akan kehilangan rambut dari bagian kepala Anda, tetapi sangat mungkin juga bila Anda kehilangan rambut dari bagian tubuh lain, termasuk lengan, kaki, dan wajah.

Pada umumnya, rambut Anda akan mulai tumbuh kembali setelah perawatan kemoterapi Anda selesai. Tetapi terkadang, rambut yang tumbuh kembali memiliki warna yang sedikit berbeda atau mungkin lebih bergelombang atau lebih lurus dari biasanya.

  • Infeksi

Kemoterapi dapat mengurangi kemampuan tubuh Anda untuk melawan infeksi. Hal ini membuat Anda lebih mungkin terkena infeksi yang bisa membuat Anda sakit parah.

  • Anemia

Kemoterapi menurunkan jumlah sel darah merah, yang membawa oksigen ke seluruh tubuh Anda. Jika jumlah sel darah merah Anda turun dan menjadi terlalu rendah, Anda akan mengalami anemia.

  • Memar dan berdarah

Kemoterapi dapat mengurangi jumlah sel yang disebut trombosit dalam darah Anda. Jika jumlah trombosit di tubuh Anda rendah, Anda akan memiliki kulit yang mudah memar, mimisan parah dan gusi berdarah.

  • Sakit di sekitar mulut

Terkadang kemoterapi dapat membuat lapisan mulut terasa sakit dan teriritasi.  Ini dikenal sebagai mucositis.

  • Kehilangan nafsu makan

Anda mungkin kehilangan nafsu makan saat Anda menjalani kemoterapi, tetapi Anda harus mencoba untuk banyak minum cairan dan makan apa saja yang Anda bisa.

  • Masalah tidur

Beberapa orang yang menjalani kemoterapi mengalami kesulitan tidur, atau terbangun di tengah malam dan tidak dapat kembali tidur. Hal ini dikenal sebagai insomnia.

  • Masalah emosional

Kemoterapi dapat menjadi pengalaman yang membuat Anda frustasi, stres, dan traumatis. Sangat wajar untuk merasa cemas dan bertanya-tanya apakah perawatan yang Anda lakukan akan berhasil. Stres dan kecemasan juga dapat meningkatkan risiko Anda terkena depresi.

  • Perubahan kulit dan kuku

Beberapa obat kemoterapi dapat menyebabkan perubahan sementara pada kulit Anda. Misalnya, kulit Anda menjadi kering, sedikit berubah warna secara tidak merata, Anda lebih sensitif terhadap sinar matahari, dan gatal. Sebelum perawatan kemoterapi Anda dimulai, biasanya dokter atau perawat Anda akan mendiskusikan efek samping kemoterapi yang harus Anda waspadai atau laporkan. Anda juga dapat berdiskusi mengenai bagaimana cara mencegah atau mengendalikan efek samping dari kemoterapi tersebut, dan siapa yang harus dihubungi jika Anda memerlukan bantuan.

Categories
Penyakit

Perut Kembung? Atasi dengan Obat Berikut!

Beberapa obat yang dijual bebas memang boleh digunakan sewaktu-waktu tanpa resep dokter. Secara spesifik, berikut adalah daftar obat untuk mengatasi kembung beserta kandungan yang ada di dalamnya.  

Obat-obatan untuk Mengatasi Kembung

Perut yang kembung terkadang butuh penanganan cepat. Untuk itulah beberapa obat untuk mengatasi kembung bisa Anda temukan di toko obat tanpa resep dokter. Berikut adalah daftar obat untuk mengatasi kembung.

Antacid

Antacid menetralkan kadar asam dalam perut Anda. Beberapa kandungan antacid antara lain simethicone – bahan yang mengurangi gas dalam perut. Selain itu, ada pula antacid yang menyebabkan diare seperti magnesium dan aluminum.

Berikut adalah contoh Antacid yang biasa ditemui:

  • Alka-Seltzer
  • Milk of Magnesia
  • Alternagel, Amphojel
  • Gaviscon, Gelusil, Maalox, Mylanta, Rolaids
  • Pepto-Bismol
  • Tums

Antacid harus dikonsumsi sesuai dengan cara pakainya. Antacid yang berbentuk tablet harus dikunyah terlebih dahulu. Namun Antacid juga memiliki efek samping seperti diare, kram perut dan konstipasi jika dikonsumsi dalam jangka panjang.

Acid Reducer

Ada dua macam acid reducer yang beredar di pasaran, yaitu Histamine antagonis (H2 Blocker) dan Proton pump inhibitor (PPIs)

Berikut adalah contoh H2 Blocker:

  • Nizatidine (Axid AR)
  • Famotidine (Pepcid AC)
  • Cimetidine (Tagamet HB)
  • Ranitidine (Zantac)

H2 Blocker dan PPIs juga tersedia dalam dosis yang tinggi dan biasanya diresepkan oleh dokter.

Lansoprazole dan Omeprazole merupakan jenis proton pump yang dapat dibeli tanpa resep dokter namun penggunaannya disarankan tidak lebih dari dua minggu. Obat-obatan untuk mengatasi kembung ini dapat diresepkan oleh dokter dalam dosis yang tinggi.

Kombinasi Antacid dan Acid reducer

Pepcid Complete mengombinasikan antacid dengan acid reducer yang berperan penting untuk menetralkan asam sekaligus mengurangi rasa panasnya. Sementara itu, Zegerid OTC merupakan kombinasi dari PPIs dan sodium bikarbonat.

Lalu, manakah yang cocok untuk mengatasi kembung?

Obat-obatan di atas dapat mengatasi perut kembung sesuai dengan kondisi. Namun untuk kondisi yang parah, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. Jika dalam waktu dua minggu, kembung tak kunjung sembuh, kemungkinan besar Anda membutuhkan dosis yang lebih tinggi yang hanya bisa diberikan oleh dokter.

Categories
Penyakit

7 Cara Mencegah GERD Agar Anda Tetap Nyaman Beraktivitas

Pernah merasakan sensasi panas di dada? Kondisi yang disebut heartburn ini bisa dialami siapa saja. Namun ketika Anda terlalu sering mengalaminya (setidaknya dua kali seminggu selama beberapa minggu), atau ketika heartburn mulai mengganggu kehidupan Anda sehari-hari, dokter mungkin akan mengatakan bahwa Anda mengalami penyakit GERD.

Berikut adalah langkah-langkah mudah untuk mencegah GERD.

1. Diet untuk mencegah GERD

Cara pertama yang harus dilakukan untuk mencegah penyakit GERD adalah dengan mengubah pola makan Anda. Coba praktikkan tips berikut ini.

  • Makan dalam porsi kecil namun sering. Misalkan Anda sering makan tiga kali sehari dalam jumlah besar. Coba ubah pola tersebut dengan cara makan lima kali dalam porsi yang dikurangi. Hal ini mencegah perut Anda mendorong makanan dan asam lambung ke atas.
  • Hindari makanan yang memicu penyakit GERD, misalnya buah sitrus, peppermint, cokelat, tomat, bawang putih dan makanan berlemak dapat memicu produksi asam lambung.
  • Hindari konsumsi alkohol, kafein, dan minuman bersoda.
  • ●     Mencatat makanan yang Anda konsumsi dalam buku. Dengan memiliki daftar makanan yang masuk ke perut Anda, Anda dapat mengetahui secara pasti kebiasaan makan Anda, serta apa saja yang dapat memicu terjadinya penyakit GERD dan mulai menguranginya.

2. Mencegah GERD dengan mengubah pola tidur

  • Jangan makan sesaat sebelum tidur. Pastikan makanan terakhir yang Anda konsumsi adalah tiga jam sebelum tidur. Efek gravitasi dapat membuat asam lambung Anda naik saat Anda berbaring tidur.
  • Naikkan bantalan di kepala hingga lebih tinggi dari perut. Hal ini juga berkaitan dengan gravitasi yang mencegah naiknya asam lambung ke kerongkongan.

3. Berhenti merokok

Merokok merupakan salah satu pemicu GERD. Selain tidak baik untuk kesehatan, merokok dapat membuat nyeri dada semakin parah. Sebagai gantinya, Anda bisa mengunyah permen karet. Aktivitas mengunyah dapat memproduksi air liur yang berfungsi menetralkan asam lambung.

4. Turunkan berat badan

Obesitas dapat menyebabkan gejala GERD. Lemak pada perut cenderung memberikan tekanan yang bisa mendorong asam lambung ke kerongkongan. Konsultasikan diet Anda dengan dokter agar dapat menurunkan berat badan dengan cara yang sehat

5. Hindari obat-obatan tertentu

Obat untuk mengatasi rasa sakit memang dijual bebas di toko namun aspirin dan ibuprofen bisa memperparah keadaan Anda. Jika Anda harus minum obat penghilang rasa sakit, pilih parasetamol. Bila Anda merasa bahwa obat-obatan yang Anda konsumsi mungkin menyebabkan GERD, bicarakan dengan dokter. Jangan langsung berhenti minum obat, atau justru minum obat lambung tanpa konsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

6. Yoga

Yoga dan tai chi dapat membantu meredakan gejala GERD sekaligus menghilangkan stres.

7. Gunakan pakaian yang longgar

Pakaian yang ketat terutama yang menekan area perut dapat mendorong asam lambung naik ke kerongkongan