Categories
Penyakit

Mengenal Hematoma Subdural Yang Berbahaya

Hematoma subdural terjadi ketika darah berkumpul di permukaan lapisan otak, tepat di bawah tulang tengkorak. Hematoma subdural biasanya disebabkan karena cidera kepala, dan merupakan sebuah kondisi yang dapat mengancam nyawa. Hematoma subdural bersifat akut dan kronis. Dalam kasus hematoma subdural akut, kondisi ini terbentuk karena cidera kepala yang parah, dengan harapan pemulihan yang cukup rendah, sekitar 20 hingga 30 persen penderita mampu mendapatkan kembali fungsi otak sebagian atau keseluruhan mereka. Di sisi lain, hematoma subdural kronis disebabkan karena cidera kepala minor. Gumpalan darah di permukaan otak juga dikenal dengan nama hematoma subdural.

Bagaimana hematoma subdural terbentuk?

Hematoma subdural terbentuk ketika pembuluh darah vena pecah di antara tulang tengkorak dan permukaan otak.

  • Hematoma subdural akut

Apabila Anda menderita cidera otak parah, daerah tersebut dapat terisi darah dan menyebabkan gejala yang mengancam nyawa. Kondisi ini disebut dengan nama hematoma subdural akut, dan merupakan jenis hematoma subdural yang paling berbahaya. Hematoma subdural akut biasanya disebabkan karena kecelakaan mobil, pukulan pada daerah kepala, dan terjatuh. Hematoma subdural akut terbentuk dengan cepat, dan gejala akan muncul dengan segera. Sekitar 50 hingga 90 persen orang-orang yang menderita hematoma subdural dapat meninggal akibat kondisi ini atau komplikasi kesehatan yang menyertainya.

  • Hematoma subdural kronis

Hematoma subdural jenis ini biasanya disebabkan karena cidera otak ringan atau berkali-kali. Kondisi ini umum dijumpai pada orang tua yang sering terjatuh dan mengalami cidera pada kepala. Beberapa kasus hematoma subdural kronis dapat terjadi tanpa ada penyebab yang jelas.

Risiko yang lebih tinggi pada orang tua tersebut disebabkan karena otot menyusut dengan bertambahnya usia. Hal ini membuat ada ruang ekstra di tengkorak, sehingga membuat pembuluh darah vena mudah rusak saat cidera kepala terjadi. Gejala hematoma subdural kronis tidak terlihat segera, dan bahkan mungkin tidak akan muncul dalam waktu beberapa minggu. Hematoma subdural kronis lebih mudah diobati dibandingkan dengan hematoma subdural akut. Namun, kondisi ini masih berpotensi menyebabkan komplikasi yang mengancam nyawa.

Gejala hematoma subdural

Hematoma subdural akut dapat langsung menyebabkan gejala sesaat setelah cidera kepala terjadi. Akan tetapi, mereka dengan hematoma subdural kronis mungkin tidak menunjukkan gejala apapun. Gejala umum hematoma subdural di antaranya adalah berbicara dengan kurang jelas, hilangnya kesadaran atau koma, kejang, mati rasa, sakit kepala parah, kelemahan, dan gangguan penglihatan. Anda perlu mengunjungi dokter apabila memiliki gejala-gejala tersebut. Gejala tersebut juga dapat menjadi tanda adanya kondisi kesehatan serius lain. Sementara itu, gejala hematoma subdural kronis mirip dengan gejala demensia, stroke, tumor, dan masalah kesehatan otak lain.

Beberapa jenis hematoma subdural dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk koma dan kematian. Hal ini dapat terjadi terutama apabila hematoma subdural tidak dirawat. Bahkan, dalam beberapa kasus, komplikasi dapat terjadi setelah perawatan. Komplikasi tersebut di antaranya adalah herniasi otak (tekanan di otak dapat menggerakkan jaringan jauh dari tempat semestinya. Kondisi ini dapat menyebabkan kematian); kejadian pendarahan lanjutan, terutama apabila Anda berusia lanjut dan memiliki risiko yang lebih tinggi menderita pendarahan ketika memiliki cidera kepala; dan kejang, bahkan ketika hematoma subdural telah diobati. Diagnosa dan perawata yang tepat dapat meminimalisir terjadinya komplikasi tersebut. Untuk itu, apabila Anda memiliki gejala-gejala yang disebutkan sebelumnya usai menderita cidera kepala, hubungi dokter segera.

Categories
Penyakit

Mengenal Alkaptonuria, Penyakit Turunan Yang Langka

Alkaptonuria merupakan sebuah gangguan turunan langka yang terjadi ketika tubuh tidak memproduksi cukup enzim homogentisic dioxygenase (HGD). Enzim ini digunakan untuk memecah zat beracun yang bernama asam homogentisic. Saat tubuh tidak memproduksi cukup HDG, asam homogentisic menumpuk di dalam tubuh. Penumpukan asam homogentisic tersebut dapat menyebabkan tulang dan tulang rawan menjadi berubah warna dan rapuh. Hal ini biasanya akan menyebabkan osteoarthritis, terutama pada tulang belakang dan persendian besar. Orang-orang dengan alkaptonuria juga memiliki air seni yang berwarna coklat gelap atau hitam ketika terpapar udara. 

Gejala alkaptonuria

Noda hitam pada popok bayi merupakan salah satu tanda awal adanya alkaptonuria. Gejala akan semakin terlihat seiring seseorang bertambah usia, salah satunya air seni menghitam saat terpapar udara. Saat Anda mencapai usia 20 hingga 30-an tahun, Anda akan melihat adanya tanda-tanda serangan osteoarthritis, misalnya rasa nyeri atau kaku kronis di bagian punggung bawah dan persendian besar. Gejala lain alkaptonuria di antaranya adalah noda hitam di sklera (bagian putih) mata, tulang rawan yang menebal dan menghitam pada telinga, perubahan warna kulit menjadi biru di sekitar kelenjar keringat, keringat atau noda keringat yang berwarna gelap, tahi telinga hitam, batu ginjal dan batu prostat, dan arthritis (terutama di bagian panggul dan persendian lutut).

Alkaptonuria juga dapat menyebabkan gangguan kesehatan jantung. Penumpukan asam homogentisic dapat menyebabkan katup jantung Anda mengeras. Hal ini dapat mencegah katup jantung untuk menutup dengan benar, menyebabkan gangguan katup aortic dan mitral. Dalam kasus yang parah, penggantian katup jantung dapat dibutuhkan. Penumpukan asam homogentisic juga menyebabkan pembuluh darah mengeras, yang mana meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. 

Apa penyebab alkaptonuria?

Alkaptonuria disebabkan oleh mutasi gen homogentisate 1,2-dioxygenase (HGD). Ini merupakan kondisi resesif secara otomatis. Ini berarti kedua orangtua Anda harus memiliki gen tersebut untuk bisa menurunkan kondisi alkaptonuria kepada Anda. Alkaptonuria merupakan sebuah penyakit yang langka. Menurut Organisasi Penyakit Langka Nasional (NORD), jumlah tepat kasus alkaptonuria tidak diketahui. Di Amerika Serikat sendiri, diperkirakan ada 1 dari setiap 250 ribu hingga 1 juta kelahiran menderita alkaptonuria. Akan tetapi, kondisi ini lebih umum dijumpai di negara-negara tertentu seperti Slovakia, Jerman, dan Republik Dominika. 

Tingkat kelangsungan hidup orang-orang yang menderita alkaptonuria cukup normal. Akan tetapi, penyakit ini menempatkan Anda pada risiko tinggi penyakit tertentu, seperti arthritis pada tulang belakang, panggul, pundak, dan lutut; kerusakan tendon Achilles; pengerasan katup aorta dan mitral jantung; pengerasan arteri koroner; dan batu ginjal serta prostat. Namun, beberapa dari komplikasi tersebut dapat ditunda dengan melakukan check up medis dengan teratur. Dokter akan rutin memantau kondisi Anda. Tes untuk memantau tingkat kemajuan kondisi Anda di antaranya melibatkan:

  • Sinar-X tulang belakang untuk memeriksa adanya degenerasi cakram dan kalsifikasi di tulang belakang lumbal
  • Sinar-X dada untuk memantau katup jantung aorta dan mitral
  • CT scan atau pemindaian tomografi terkomputerisasi guna menemukan gejala atau tanda-tanda pada arteri koroner

Alkaptonuria didiagnosa lewat observasi karakteristik gejala dari penyakit dan tes untuk mengonfirmasi hal ini. Khususnya sebuah tes laboratorium bernama gas chromatography akan dilakukan untuk mencari jejak asam homogentisic pada urin pasien. Untuk mengonfirmasi diagnosa kondisi alkaptonuria, riwayat kesehatan keluarga yang lengkap dan/atau tes DNA dapat digunakan guna memeriksa adanya gen HGD yang bermutasi.

Categories
Penyakit

Hindari Sarkoma, Hindari Risiko Penyebabnya

Pernah mendengar penyakit yang dijuluki sarkoma? Penyakit ini sebenarnya merupakan salah satu jenis kanker yang cukup agresif. Namanya tidak semencuat jenis kanker lainnya karena kasus sarkoma di dunia cukup tergolong langka.

Jenis kanker langka ini bisa menyerang bagian tubuh manapun yang memiliki jaringan lunak. Jaringan tersebut busa berada di perut Anda, tungkai kaki, ataupun lengan. Siapapun bisa terserang penyakit ini dari usia dini. Akan tetapi, risiko terkena sarkoma memang lebih rentan pada orang-orang yang sudah tua.

Dianggap langkanya penyakit sarkoma tak lain juga dipicu sedikitnya orang yang menyadari terkena kanker ini. Pasalnya, gejala dari sarkoma sangat sulit untuk terdeteksi. Begitu pula dengan penyebab dari kanker jaringan lunak ini. Meskipun sulit, mengenai penyebabnya, beberapa ahli lewat penelitiannya sudah menyimpulkan sejumlah faktor risiko yang bisa menjadi penyebab sarkoma seperti di bawah ini.

  1. Paparan Radiasi

Seseorang yang sering terkena paparan radiasi tinggi memiliki risiko lebih tinggi terserang sarkoma. Ini termasuk orang-orang yang kerap melakukan terapi radiasi untuk berbagai macam pengobatan. Pasalnya, paparan radiasi membuat sel-sel kanker langka ini lebih mudah berkembang biak dan menyebar dari berbagai jaringan lunak di dalam tubuh.

Penyakit sarkoma yang muncul dari paparan radiasi tidak bisa langsung terasa. Namun dalam beberapa waktu ke depan, keluhan-keluhan ringan di kisaran jaringan lunak Anda bisa menjadi penanda ada sel kanker yang tengah berkembang.

  • Faktor Genetik

Dalam banyak kasus, penderita sarkoma didapati sangat acak dan tidak menunjukkan adanya faktor penularan maupun keturunan. Namun, ditemukan juga pasien-pasien sarkoma yang nyatanya memiliki suatu kelainan genetik yang sama. Karena itulah, faktor genetik juga dinilai memengaruhi berkembangnya sel kanker langka ini di dalam tubuh.

Beberapa orang dengan sindrom tertentu didapati lebih rentan terkena jenis kanker yang satu ini. Sindrom yang berisiko menghadirkan sarkoma, contohnya adalah neurofibromatosis dan tuberous sclerosis. Keduanya merupakan sindrom yang memicu tumor jinak. Neurofibromatosis merupakan sindrom munculnnya tumor jinak di bagian saraf. Sementara itu, tuberous sclerosis merupakan sindrom di mana munculnya tumor jinak di bagian otak.

  • Paparan Bahan Kimia

Beberapa bahan kimia bisa meningkatkan risiko yang menjadi penyebab sarkoma. Bahan-bahan kimia pemicu sarkoma umumnya berupa zat beracun yang memang berbahaya bagi tubuh. Paparan yang berlebih secara sengaja maupun tidaklah yang akhirnya membuat bahan-bahan tersebut mampu mengembangkan sel kanker di jaringan lunak manusia.

Beberapa bahan kimia yang mesti Anda waspadai, seperti arsenik, vinyl chloride, serta herbisida fenoksiasetat. Hanya saja, para peneliti mengingatkan ahwa bahan-bahan kimia tersebut memang meningkatkan risiko kanker, akan tetapi tidak bisa dihakimi sebagai penyebab utamanya.

  • Virus Herpes

Kanker langka bernama sarkoma nyatanya juga bisa disebabkan oleh adanya mikroorganisme yang masuk ke dalam tubuh. Adalah virus herpes yang dituduh sebagai penyebab penyakit yang menyerang sel jaringan lunak ini.

Tepatnya virus herpes 8 yang disebut meningkatkan risiko sarkoma pada diri seseorang. Virus ini menjadi satu-satunya penyebab pasti dari sarkoma yang sampai kini bisa ditemukan oleh para peneliti.

  • Penyakit Tulang

Seseorang yang terkena penyakit tulang terlebih dahulu lebih rentan terkena sarkoma. Sejauh ini, penyakit tulang yang meningkatkan risiko munculnya kanker langka di jaringan lunak ini adalah paget.

Paget merupakan suatu penyakit yang tergolong sebagai gangguan regenerasi tulang. Umumya, paget akan menyerang bagian tulang belakang, tungai, serta panggul seseorang. Ketika terserang penyakit ini, tulang penderita akan lebih rapuh bahkan bisa berubah bentuk menjadi bengkok.

Banyak penyebab sarkoma belum diketahui secara pasti. Jadi, menghindari sejumlah faktor risiko yang memungkinkan memunculkan sel kanker di jaringan lunak menjadi jalan terbaik untuk mencegah diri terkena sarkoma.

Categories
Penyakit

Beberapa Penyakit Zoonosis Bawaan Ternak selain Brucellosis

Salah satu mata pencaharian yang populer di dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan di Indonesia adalah berternak. Hal ini dapat dibuktikan dari banyaknya rumah-rumah dengan kandang ternak yang menyertai, utamanya di daerah pedesaan. Mereka harus waspada, karena di sana tersimpan banyak risiko kesehatan, salah satunya brucellois.

Dunia medis mengidentifikasi penyakit yang berasal dari hewan sebagai zoonosis. Zoonosis disebabkan oleh patogen seperti bakteri, virus, fungi, serta parasit seperti protozoa dan cacing. Diperkirakan lebih dari 60% penyakit infeksius pada manusia tergolong zoonosis.

Brucellois merupakan salah salah satu penyakit zoonosis karena penderitanya terinfeksi oleh bakteri dari genus Brucella, tepatnya Brucella sp. Bakteri ini merupakan bakteri gram negatif. Penyakit brucellosis biasanya menyerang hewan ternak, seperti kambing dan sapi. Bakteri Brucella dapat keluar dari tubuh sapi atau kambing melalui berbagai macam cairan, seperti susu, urine, cairan plasenta, dan cairan lainnya.

Penularan brucellosis kepada manusia terjadi melalui produk hasil hewan ternak yang sudah terkontaminasi dan kemudian dikonsumsi oleh manusia. Ada kemungkinan pula bekateri ini menginfeksi melalui udara yang sudah terkontaminasi. Melakukan kontak langsung dengan hewan ternak yang terinfeksi juga dapat membuat seseorang tertular penyakit ini.

Jika tertular, gejala umum yang muncul antara lain tubuh merasa lemas, pusing, berat badan turun, nafsu makan menurun, sakit punggung, seluruh sendi tubuh terasa sakit, demam, menggigil, dan berkeringat di malam hari. Saat melakukan pemeriksaan, mereka yang terserang bisanya diketahui mengalami pembesaran organ hati dan limpa.

Meski jarang terjadi dan cenderung sulit berkembang di Indonesia, jika dibandingkan dengan penyakit zoonosis dari hewan ternak lain, brucellois tetap tak dapat dipandang sebelah mata. Adapun beberapa penyakit dari hewan ternak lain yang lebih populer di Indonesia adalah:

  • Flu Burung

Flu burung atau yang dikenal juga sebagai avian influenza adalah salah satu jenis infeksi virus yang umumnya ditemukan pada unggas. Namun, virus yang menyebabkan flu burung dapat bermutasi dan menyebar ke manusia. Apabila manusia terinfeksi virus flu burung, gejala yang tampak akan bervariasi, mulai dari yang ringan hingga parah dan berpotensi membahayakan nyawa.

Penularan ini biasanya terjadi akibat adanya kontak dengan burung yang terinfeksi virus atau proses memasak unggas yang kurang matang. Penyakit ini tidak dapat ditularkan antarmanusia, tapi para ahli mengkhawatirkan adanya kemungkinan virus flu burung dapat bermutasi lagi dan bisa tersebar dengan mudah ke sesama manusia.

Tercatat sejak tahun 2003 Indonesia merupakan negara dengan jumlah korban terbanyak akibat wabah flu burung. Status Kondisi Luar Biasa atau KLB untuk flu burung kerap ditetapkan oleh pemerintah. Penyakit ini tidak bisa dianggap sepele karena dalam kasus penularan flu burung terhadap manusia di Indonesia, hampir 80 persen berakhir dengan kematian.

  • Anthrax

Seseorang yang terinfeksi anthrax biasanya akan mengalami benjolan yang melepuh berwarna biru gelap, adanya reaksi peradangan dari luka, sakit perut, mual, muntah, diare, demam, nyeri otot dan dada, serta dapat terjadi kematian dalam waktu 24 jam.

Dilihat dari gejalanya, penyakit yang disebabkan oleh bakteri dari genus yang sama dengan penyebab brucellosis, khususnya Bacillus anthracis, ini merupakan kondisi yang serius dan tak dapat disepelekan.

Hampir semua hewan ternak dari jenis mamalia, seperti sapi, kambing, domba, kerbau, dan babi berpotensi terserang anthrax. Hewan yang terinfeksi bisa ditandai dari gelagat dan tanda-tandanya, seperti demam, gelisah, dan mengeluarkan darah dari hidung dan dubur. Jika sudah sangat parah hewan akan mengalami pembengkakan dan mati mendadak.

Menurut data Kemenkes RI, pada tahun 2010-2016 terdapat 172 kasus anthrax di mana 97%nya merupakan anthrax kulit, sementara 3%nya merupakan anthrax pencernaan. Penderita anthrax sebanyak 61% adalah laki-laki dan sisanya wanita. Adapun menurut kelompok umur, 93% penyakit ini menyerang kelompok umur di atas 15 tahun.

  • Taeniasis dan Sistiserkosis

Satu penyakit yang umum ditularkan ke manusia dari hewan ternak adalah taeniasis. Kondisi ini dapat dimengerti sebagai infeksi usus. Taenasis disebabkan oleh cacing pita dewasa yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui konsumsi daging sapi atau daging babi yang kurang matang, atau bahkan mentah.

Kondisi daging seperti ini masih terdapat bentuk kistik yang berisi larva cacing pita. Larva kistik yang masuk ke dalam tubuh manusia akan berkembang biak di otot, kulit, mata, dan sistem saraf pusat. Penderita taeniasis akan mengeluarkan telur cacing melalui tinja yang kemudian dapat mengontaminasi lingkungan.

Selain itu, telur cacing yang tertelan dapat berkembang di susunan saraf pusat pada otak dan mengakibatkan epilepsi. Kondisi ini disebut sistikersosis. Penyakit ini ditandai dengan kejang-kejang, sakit kepala berlebihan, demensia, meningitis, kebutaan, atau hidrosefalus.

***

Itulah beberapa penyakit yang biasa datang dari hewan ternak. Jika Anda merupakan salah seorang yang kerap berinteraksi dengan hewan ternak, selalu perhatikan kondisi hewan dan kebersihan lingkungan. Jangan sampai Anda atau keluarga terserang brucellosis atau penyakit yang berasal dari ternak lainnya.

Categories
Penyakit

Screening Retina

Screening retina adalah prosedur pemeriksaan yang menggunakan laser atau kamera digital untuk memeriksa bagian belakang mata pasien. Prosedur tersebut juga dikenal sebagai optical coherence tomography (OCT) atau digital retinal imaging (DRI).

Prosedur ini tentunya dilakukan oleh dokter spesialis mata, dan prosedurnya melibatkan pengambilan gambar digital yang dapat menunjukkan kondisi retina, saraf optik, makula, diskus optikus, dan pembuluh darah pada mata.

Retina merupakan lapisan yang terletak di belakang mata dan merupakan tempat cahaya dan gambar masuk. Saraf optik berada pada diskus optikus dimana kegunaannya adalah untuk memberikan gambar yang ditangkap retina ke otak. Makula merupakan bagian retina yang memiliki kegunaan dalam penglihatan pusat yang tajam.

Dengan screening retina, dokter dapat memperoleh gambar retina dengan lebih jelas dibandingkan dengan pemeriksaan biasa yang menggunakan alat oftalmoskop. Pemeriksaan ini akan membantu dokter mendeteksi jika terdapat gangguan pada mata pasien.

Pada screening retina, gelombang cahaya digunakan untuk memperoleh gambar retina. Selain itu, dokter juga dapat melihat lapisan retina dan mengukur ketebalan pada tiap lapisan. Pengukuran pada retina penting untuk keperluan diagnosis.

Setelah melakukan diagnosis, dokter dapat menentukan pengobatan seperti apa untuk pasien, untuk mengobati gangguan yang terkait dengan mata seperti retinopati diabetik dan degenerasi makula.

Mengapa Screening Retina Perlu Dilakukan?

Pada umumnya, screening retina dapat digunakan bagi pasien yang mengalami kondisi sebagai berikut:

  • Diabetes melitus

Diabetes melitus dapat merusak pembuluh darah pada retina manusia karena tingginya gula darah. Jika gula darah tidak dikontrol dengan baik, maka dapat berpotensi mengakibatkan kebutaan. Pasien yang berusia 12 tahun ke atas yang terkena kondisi seperti ini perlu melakukan screening retina setahun sekali.

  • Glaukoma

Glaukoma juga dapat menyebabkan kebutaan karena cairan menumpuk di bagian depan mata dan meningkatkan tekanan dalam bola mata.

  • Degenerasi makula

Degenerasi makula adalah gangguan yang menyebabkan pandangan kabur seiring bertambahnya usia. Degenerasi makula terjadi karena adanya pertumbuhan pembuluh darah abnormal di bawah retina.

  • Toksisitas retina

Toksisitas retina dipengaruhi oleh obat radang sendi yang disebut sebagai hydroxychloroquine yang bersifat toksik dan dapat merusak retina.

  • Kondisi mata yang buruk

Dokter juga menyarankan pasien untuk melakukan screening retina jika gangguan pada mata terjadi tanpa penyebab.

Diagnosis

Jika Anda mengalami gangguan di bagian mata dan membutuhkan screening retina, Anda dapat melakukannya. Sebelum melakukan screening retina, dokter perlu memberikan obat tetes mata untuk melebarkan pupil di bagian mata. Pelebaran pupil akan memudahkan dokter untuk memeriksa retina.

Prosedur screening retina berlangsung sekitar 5 menit yang meliputi:

  • Dahi dan dagu pasien yang diposisikan pada penyangga khusus.
  • Pasien akan diminta untuk membuka mata selebar mungkin.
  • Alat laser digunakan untuk meninjau mata pasien.
  • Gambar yang dihasilkan alat tersebut ditampilkan di layar komputer agar dokter dapat menganalisanya.

Hasil Screening Retina

Hasil screening retina dapat membantu dokter melihat tanda-tanda yang terjadi pada mata pasien yang sebelumnya tidak terdeteksi, yang tampil di layar komputer. Setelah itu, dokter akan menunjukkan hasilnya kepada pasien. Jika hasilnya buruk, maka dokter akan menangani pasien melalui prosedur medis lain, sesuai kondisi pasien.

Kesimpulan

Pada umumnya, screening retina merupakan salah satu prosedur medis yang aman untuk dilakukan. Prosedurnya mudah untuk dilakukan. Sebelum melakukan screening retina, Anda sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. Setelah melakukan screening retina, hasilnya juga belum tentu menunjukkan bahwa kondisi mata pasien normal.

Categories
Penyakit

4 Jenis Obat yang Diteliti untuk Menyembuhkan Corona

Berdasarkan uji coba, Remdesivir meningkatkan waktu pemulihan pasien Covid-19 sekitar 31% lebih cepat

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau FDA disebut telah menyetujui pemakaian obat darurat yang diproduksi Gilead Sciences yakni Remdesivir untuk pasien virus corona yang sudah mengalami gejala parah. Ternyata terdapat empat jenis obat corona yang masih dalam tahap penelitian selain remdisivir untuk menyembuhkan pasien yang terinfeksi virus corona.

Sebagai salah satunya Remdesivir merupakan anti-virus yang ditujukan untuk mengurangi waktu pemulihan pasien COVID-19. Melalui pemerintah Amerika Serikat, perusahaan yang membuat Remdesivir telah mengekspor obat tersebut dan telah tersedia untuk para pasien virus corona yang berada di Amerika Serikat.

Jenis Obat Corona

  • Remdesivir

Remdesivir juga merupakan vaksin antivirus yang dikembangkan perusahaan bioteknologi yang berbasis di Amerika Serikat, Gilead Sciences. Obat ini memiliki kode pengembangan GS-5734 yang masuk ke analog nukleotida, termasuk disintesis dalam beberapa turunan ribosa. Vaksin ini diklaim mampu mengobati pasien COVID-19 yang telah dalam kondisi parah.

Pasien yang mengonsumsi obat ini disebut memiliki waktu pemulihan yang lebih cepat ketimbang pasien COVID-19 yang hanya mendapatkan plasebo. Hal ini diungkap oleh The US National Institute of Allergy and Infections Disease (NIAID). Remdesivir adalah produk analog nukleotida yang juga dipakai untuk mengatasi infeksi Ebola dan virus marburg di tahun 2013-2016.

Pasien dalam kondisi parah disebut bisa sembuh empat hari lebih cepat dari waktu pemulihan pada umumnya. Rata-rata waktu pemulihan pasien yang menggunakan obat ini adalah 11 hari, sementara itu pasien yang tidak menggunakan obat ini dan hanya diobati dengan plasebo harus membutuhkan waktu pemulihan selama 15 hari.

  • Avigan

Obat ini juga disebut dengan nama Favipiravir merupakan obat dari Jepang yang dikembangkan oleh perusahaan Jepang, Fujifilm Toyama Chemical. Avigan diproduksi oleh Zheijang Hisun Pharmaceutical, pada dasarnya obat ini dikembangkan untuk mengobati virus influenza, meski demikian obat ini diakui sebagai pengobatan eksperimental untuk pasien corona.

Live Science menyebutkan bahwa Avigan secara khusus dipakai untuk mengobati virus RNA, virus SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab adanya COVID-19 dengan materi genetik utama RNA dan bukan DNA. Avigan ini disebut mampu menghentikan replikasi virus dengan melumpuhkan enzim yang dinamakan RNA Polimerase.

  • Klorokuin

Memiliki nama ilmiah chloroquine, Klorokuin merupakan senyawa sintetis atau kimiawi yang memiliki struktur sama dengan quine sulfate. Bahan kimia ini berasal dari ekstrak kulit batang pohon kina yang merupakan obat bagi pasien penyakit malaria. Klorokuin menjadi salah satu senyawa yang dianggap sebagai kandidat antivirus untuk COVID-19.

Penelitian terkait penggunaan obat ini telah dilakukan di Wuhan Insitute of Virology dari Chinese Academy of Sciences. Dilakukan oleh ahli virologi Manli Wang bersama tim dan telah dipublikasikan dalam Jurnal Nature. Hasil dari penelitian awal terhadap antivirus ini adalah klorokuin mampu menghambat kemampuan virus baru menginfeksi dan tumbuh di dalam sel.

  • Lopinavir dan Ritonavir

Selain Remdesivir dan Klorokuin sebagai obat yang direkomendasikan WHO, terdapat satu jenis obat lain lagi yang tengah diuji sebagai obat corona. Lopinavir dan ritonavir menjadi obat kombinasi yang disebut bekerja dengan baik untuk melawan virus HIV. Kombinasi kedua obat ini bekerja langsung pada protein inti virus yang dinamakan dengan protoase.

Lopinavir dan ritonavir merupakan kombinasi dua bahan yang sama seperti remdesivir, yakni kedua bahan ini berhasil diuji pada tikus. Obat ini dengan remdesivir sama-sama mampu untuk melawan SARS-CoV-2 di tikus meskipun belum dilakukan pengujian pada manusia.

Categories
Penyakit

Isolasi Mandiri: Untuk Melawan Corona

Virus Corona atau Covid-19 telah menyebar ke setiap negara. Jumlah kasus yang terjadi di dunia telah meningkat secara signifikan, yaitu sebanyak lebih dari 1 juta kasus. Hal tersebut juga mengakibatkan kematian sebanyak lebih dari 53.000 orang, namun lebih dari 213.000 orang dinyatakan sembuh. Oleh karena itu, setiap negara melakukan sejumlah upaya untuk memerangi virus Corona, salah satunya adalah dengan menghimbau masyarakat agar melakukan isolasi mandiri.

Setiap orang diminta untuk melakukan isolasi mandiri sebagai salah satu cara untuk mencegah penyebaran virus Corona. Sejumlah aktivitas di luar rumah dibatasi dan orang-orang hanya diperbolehkan untuk keluar rumah jika mereka ada keperluan mendesak seperti membeli obat untuk menjaga kesehatan tubuh.

Beberapa negara seperti Italia, Perancis, dan Malaysia telah menerapkan ‘Lockdown’ sebagai upaya untuk mencegah penularan virus Corona, sementara Indonesia telah menerapkan Social Distancing atau Physical Distancing.

Meskipun demikian, Indonesia juga merupakan salah satu negara yang terdapat banyak kasus, yaitu sebanyak 1.790 orang per 3 April 2020. Hal tersebut juga mengakibatkan 170 orang meninggal dunia, namun 112 orang telah dinyatakan sembuh.

Oleh karena itu, isolasi mandiri adalah langkah yang perlu diambil setiap masyarakat untuk melindungi diri dari virus Corona. Hal tersebut juga merupakan cara efektif untuk membantu mengurangi jumlah pasien sehingga mereka tidak perlu dirawat di rumah sakit.

Isolasi mandiri tidak hanya berlaku bagi pasien yang mengalami gejala ringan atau berat, yang disebabkan oleh virus Corona, namun juga berlaku bagi orang-orang yang tidak memiliki gejala apapun.

Untuk mencegah penularan virus Corona, Anda sebaiknya isolasi diri di rumah selama setidaknya 2 minggu, dan selama Anda menjaga diri di rumah, berikut adalah beberapa hal yang sebaiknya Anda lakukan:

  • Lakukan aktivitas sesuai kebutuhan baik kebutuhan sekolah maupun pekerjaan.
  • Anda boleh keluar rumah jika ada keperluan mendesak seperti membeli makanan atau obat.
  • Jika Anda keluar, Anda sebaiknya gunakan masker untuk mencegah penularan melalui udara.
  • Anda sebaiknya juga membawa hand sanitizer jika Anda tidak menemukan tempat untuk mencuci tangan.
  • Anda sebaiknya hindari kerumunan, dan jaga jarak setidaknya 1 meter dari orang lain.
  • Jika Anda bertemu seseorang, Anda sebaiknya jangan berjabat tangan.
  • Cucilah tangan dengan rutin selama 20 detik dengan sabun. Anda bisa menggunakan hand sanitizer sebagai penggantinya.
  • Masaklah makanan dengan matang.
  • Konsumsi makanan yang sehat seperti buah-buahan dan sayur.
  • Berolahraga secara rutin.
  • Minum obat untuk menjaga daya tahan tubuh.

Isolasi mandiri penting untuk dilakukan, supaya Anda dapat melindungi diri dari virus Corona. Selama Anda berada di rumah, Anda sebaiknya ikuti perkembangan yang terjadi mengenai virus Corona. Pastikan Anda tidak mendengar atau melihat informasi yang salah atau hoaks.

Jika Anda telah melakukan isolasi mandiri di rumah, namun gejala yang dialami semakin memburuk, maka Anda perlu dibawa ke rumah sakit agar dokter dapat mendiagnosis kondisi Anda. Setelah mengetahui kondisi Anda dan jika gejala yang Anda alami disebabkan oleh Corona, maka Anda perlu dikarantina di rumah sakit rujukan selama 14 hari. Selama Anda dikarantina, Anda sebaiknya gunakan waktu untuk beristirahat agar kondisinya semakin membaik.

Selain itu, ada baiknya jika Anda isolasi mandiri di rumah dan tidak mudik ke luar kota walaupun Presiden Jokowi memutuskan untuk tidak melarang mudik. Jika Anda mudik ke luar kota, maka Anda akan berada dalam daftar ODP (orang dalam pemantauan).

Categories
Penyakit

Obat Saraf Kejepit Apa Yang Dapat Meredakan Nyeri?

Obat syaraf kejepit sangat beragam, mulai dari suntikan steroid hingga obat antidepresan.

Banyak orang yang sering mengalami saraf kejepit sehingga perlu ditangani dengan obat untuk meredakan nyeri yang terjadi pada tubuh. Saraf kejepit merupakan kondisi ketika saraf menerima banyak tekanan dari tulang, kartilago (tulang rawan), otot, bahkan tendon. Tekanan tersebut menyebabkan nyeri, kesemutan, bahkan mati rasa. Orang-orang perlu menggunakan obat saraf kejepit untuk mencegah hal tersebut terjadi.

Saraf kejepit terjadi disebabkan oleh cedera, radang sendi pada pergelangan tangan, kegemukan, kegiatan atau hobi yang dilakukan secara berlebihan, dan pekerjaan berat yang dilakukan secara terus menerus. Obat saraf kejepit dapat mencegah terjadinya gangguan pada saraf.

Obat Saraf Kejepit

Kerusakan yang terjadi oleh saraf kejepit bervariasi, bisa ringan atau berat. Tidak hanya itu, saraf kejepit juga mengakibatkan rasa sakit dalam jangka pendek atau jangka panjang. Jika Anda mengalami hal serupa, Anda tidak perlu khawatir, karena ada berbagai pengobatan yang dapat dilakukan untuk mencegah hal tersebut terjadi. Obat saraf kejepit dapat dilakukan dengan cara berikut:

  • Kortikosteroid oral

Anda dapat konsumsi obat saraf kejepit kortikosteroid oral untuk meredakan nyeri atau pembengkakan pada tubuh. Obat saraf kejepit kortikosteroid yang diresepkan dokter mengandung kortison, hidrokortison, dan prednison.

Tidak hanya terdapat kandungan tersebut, obat saraf kejepit kortikosteroid juga dapat digunakan dalam bentuk krim, suntikan, inhaler, atau intranasal. Namun dokter meresepkan obat tersebut dalam bentuk tablet, kapsul, atau sirup.

  • Nonsteroid antiinflamasi

Obat saraf kejepit nonsteroid antiinflamasi (NSAID) meliputi ibuprofen, aspirin, dan naproxen. Obat tersebut dapat digunakan untuk meredakan rasa nyeri atau pembengkakan pada tubuh. Obat saraf kejepit nonsteroid antiinflamasi dapat diperoleh melalui resep dokter.

  • Suntikan steroid

Cara lain yang dapat dilakukan untuk meredakan saraf kejepit adalah dengan suntikan steroid. Suntikan steroid mampu meredakan pembengkakan pada tubuh dan menyembuhkan saraf-saraf yang mengalami peradangan.

  • Narkotika

Narkotika merupakan cara lain yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya saraf kejepit. Obat narkotika juga dapat diresepkan oleh dokter untuk meredakan rasa nyeri yang parah, namun penggunaannya hanya dalam waktu singkat.

Obat narkotika bekerja dengan reseptor rasa sakit yang dialami pada bagian otak agar dapat menghilangkan rasa nyeri yang menjadi gejala utama saraf kejepit.

  • Antikonvulsan

Obat antikonvulsan atau obat antikejang merupakan salah satu obat yang dapat digunakan untuk mencegah rasa nyeri pada tubuh akibat kerusakan saraf. Penggunaan obat antikonvulsan berlaku pada orang yang menderita epilepsi.

Anda bisa mendapatkan obat antikonvulsan melalui resep dokter. Di sisi lain, orang-orang percaya bahwa mereka menggunakan obat antikonvulsan berupa gabapentin atau pregabalin untuk mencegah nyeri akibat kerusakan saraf.

  • Antidepresan

Obat antidepresan adalah salah satu obat yang dapat digunakan jika Anda mengalami saraf kejepit. Obat antidepresan tidak hanya untuk mencegah depresi, namun juga untuk mencegah kerusakan saraf pada tubuh.

Contoh obat antidepresan yang dapat digunakan adalah amitriptyline, nortriptyline, doxepin, dan desipramine. Anda juga dapat menggunakan obat antidepresan melalui resep dokter.

  • Alat penyangga

Alat penyangga dapat digunakan bagi orang yang mengalami bagian tubuh seperti tangan yang tidak dapat digerakkan, yang disebabkan oleh saraf kejepit. Dokter akan membantu orang meredakan masalah ini dengan alat penyangga supaya otot dapat beristirahat.

  • Terapi fisik

Terapi fisik juga dapat dilakukan bagi orang yang mengalami saraf kejepit agar dapat mencegah nyeri pada tubuh. Tidak hanya itu, terapi fisik juga dapat membantu orang-orang meregangkan dan memperkuat otot mereka.

  • Operasi

Jika cara di atas tidak efektif, maka seseorang perlu menjalankan operasi untuk menghilangkan tekanan pada saraf dan memberikan ruang untuk saraf.

Categories
Penyakit

Demam Tifoid: Bagaimana Cara Mengatasinya?

Demam tifoid, atau umumnya lebih dikenal sebagai tipes, merupakan gejala yang yang terjadi pada organ tubuh yang disebabkan oleh infeksi. Gejala tersebut dapat menyebar dengan cara menular. Ada pula infeksi muncul dari makanan yang terkontaminasi.

Infeksi yang menyebabkan demam tifoid adalah bakteri Salmonella typhi. Bakteri tersebut menyebarkan racun pada makanan. Jika manusia mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi oleh bakteri tersebut, maka akan mengalami demam tifoid yang berlangsung antara 5 hari hingga satu bulan. Gejala tersebut mungkin bisa berlangsung lebih lama dari satu bulan tergantung seberapa parah yang dialami manusia dan jika mengalami gejala lain.

Setiap tahun, demam tifoid terjadi pada setidaknya 5 juta orang di seluruh dunia per tahun. Demam tersebut tersebar ke Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh) dan di negara Asia lain, namun jarang terjadi di negara-negara Asia Timur, Afrika, Amerika Selatan, dan Eropa Barat.

Gejala Demam Tifoid

Demam tifoid mengakibatkan gejala sebagai berikut:

  • Demam tinggi yang bisa mencapai 40 Celsius.
  • Kelelahan.
  • Batuk-batuk.
  • Sakit kepala.
  • Sakit perut, diare, atau sembelit.
  • Ruam.
  • Berat badan berkurang.

Jika gejala tersebut tidak diobati dengan tepat, kemungkinan kondisi yang dialami antara lain mengigau, tubuh berbaring tanpa gerakan, serta mata setengah tertutup.

Penyebab Demam Tifoid

Bakteri Salmonella typhi tidak hanya menyebar melalui makanan dan menyebabkan tipes pada tubuh, melainkan memberikan dampak yang serius pada usus. Selain bakteri Salmonella typhi, demam tifoid disebabkan oleh penyalahgunaan obat.

Obat antibiotik tidak berpengaruh banyak dalam proses penyembuhan secara total, namun hanya berperan sebagai pencegahan. Obat tersebut justru membiarkan bakteri yang ada di dalam tubuh (khususnya pada usus atau empedu) tersebar selama bertahun-tahun. Hal tersebut terjadi pada orang yang mengalami penyakit kronik dimana mereka akan mengeluarkan bakteri ketika buang air besar walaupun sembuh dari demam tifoid.

Cara Mengatasi Demam Tifoid

Walaupun demam tifoid merupakan gejala yang serius, perawatannya cukup mudah. Anda bisa dapat melakukan pencegahan dengan cara berikut:

  • Cuci tangan dengan sabun supaya mencegah infeksi masuk ke dalam tubuh.
  • Konsumsi makanan dan minuman yang bebas dari bakteri.
  • Vaksin sangat direkomendasikan jika Anda pergi ke tempat yang memiliki risiko tinggi terhadap demam tifoid.
  • Beristirahat yang cukup di rumah sampai pulih untuk mencegah penularan terhadap orang lain.

Selain itu, Anda bisa menggunakan obat untuk mencegah demam tersebut. Obat yang sebaiknya digunakan antara lain obat antibiotik doxycycline, chloramfenicol, dan ciprofloxacin (alternatif bagi orang yang tidak bisa menggunakan obat doxycycline). Anda akan sembuh dalam waktu 2 hingga 3 hari jika mengkonsumsi obat tersebut.

Jika Anda merasa kesulitan untuk memilih perawatan mana yang lebih tepat untuk mencegah demam tersebut, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter. Pada umumnya dokter akan melakukan diagnosa terlebih dahulu jika Anda memiliki gejala lain.

Dokter akan melakukan beberapa tes seperti menguji sampel urin untuk mengindikasi jika ada bakteri atau tidak. Jika ada, kemungkinan Anda mengalami demam tifoid. Setelah itu, dokter akan menanyakan beberapa hal mengenai kondisi pada tubuh Anda jika Anda mengkonsumsi makanan tertentu misalnya, atau jika sudah menggunakan vaksin atau belum.

Selain itu, dokter juga akan menanyakan beberapa pertanyaan sebagai berikut:

  • Apakah Anda mengalami gejala lain sehingga mengakibatkan demam tifoid?
  • Sudah berapa lama gejala demam tifoid dialami?
  • Kapan gejala demam tifoid terjadi?
  • Jika Anda bepergian ke suatu tempat, di mana tempat yang menungkinkan Anda mengalami demam tifoid?
  • Apakah Anda mengkonsumsi obat lain?
Categories
Penyakit

Pengobatan Alternatif Rumahan Kalazion

Pernahkah ada benjolan tumbuh di kelopak mata Anda, seperti bintitan namun tidak terasa sakit bila disentuh? Benjolan tersebut disebut dengan kalazion. Benjolan kalazion tumbuh secara perlahan, berisi nanah, dan biasanya hanya akan bertahan selama beberapa minggu.

Dalam kasus umum, kalazion akan hilang dengan sendirinya tanpa perlu perawatan medis. Kalazion dapat terbentuk ketika kelenjar meibom yang ada pada ujung kelopak mata menjadi tersumbat atau mengalami peradangan. Kelenjar ini memproduksi minyak yang digunakan untuk melubrikasi dan melembapkan mata. Pada artikel ini, kami akan membahas kalazion dengan lebih mendalam serta perawatan rumahan apa saja yang bisa Anda lakukan untuk mempercepat proses penyembuhan kalazion.

Perbedaan kalazion dan bintitan

Terlihat serupa namun tak sama, itulah kalazion dan bintitan. Sama seperti kalazion, bintitan juga merupakan benjolan yang tumbuh di daerah sekitar mata. Walaupun orang-orang sering menggunakan kedua istilah itu secara bergantian, kalazion dan bintitan merupakan 2 jenis luka yang berbeda. Kalazion terjadi akibat kelenjar minyak yang tersumbat. Sementara bintitan terjadi akibat kelenjar minyak atau folikel bulu mata yang terinfeksi. Meskipun demikian, terkadang kalazion dapat berkembang menjadi bintitan. Ada dua jenis bintitan, internal dan external. Bintitan internal berkembang di bagian dalam kelopak mata dan sering terjadi akibat infeksi pada kelenjar minyak. Sementara itu, bintitan eksternal terjadi di bagian bawah bulu mata dan biasanya terjadi akibat infeksi pada folikel rambut.

Perbedaan yang paling mencolok antara kalizion dan bintitan adalah kalazion tidak meninggalkan rasa sakit. Apabila disentuh, bintitan akan menyebabkan rasa nyeri dan bahkan membuat mata terasa berat dan gatal. Sementara kalazion tidak sakit bila disentuh.

Pengobatan alternatif rumahan kalizion

Kalizion biasanya hampir tidak membutuhkan perawatan medis apapun, dan akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu. Yang perlu Anda lakukan sambil menunggu kalizion sembuh dengan sendirinya adalah menghindari memencet atau menyentuhnya, karena dapat meningkatkan risiko infeksi mata. Agar nanah dapat terkuras secara alami serta proses penyembuhan dapat menjadi lebih cepat, ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan seperti:

  • Menggunakan kompres hangat

Menggunakan kompres hangat pada daerah yang terinfeksi dapat membantu melunakkan minyak yang mengeras dan menyumbat saluran kelenjar. Hal ini akan membantu saluran untuk terbuka dan menguras nanah dengan lebih efektif, yang mana dapat meringankan iritasi. Untuk menggunakan kompres hangat, basahi handuk atau kain yang bersih dengan air hangat, peras air berlebih, dan letakkan pada mata yang sakit selama 10 hingga 15 menit. Basahi kembali kompres untuk menjaganya tetap hangat. Lakukan hal ini beberapa kali sehari hingga bengkak hilang atau berkurang.

  • Pijatan lembut

Memijat dengan lembut kelopak mata beberapa menit setiap harinya dapat membantu saluran minyak terkuras dengan lebih efektif. Sebelum melakukan hal ini, pastikan tangan Anda bersih untuk mengurangi risiko infeksi. Saat kalizion mulai terkuras, pastikan daerah tersebut tetap bersih dan hindari menyentuhnya menggunakan tangan kosong.

  • Obat bebas

Beberapa produk obat bebas yang dapat Anda temukan di apotek mungkin dapat membantu mengurangi gejala kalizion. Obat-obatan ini dapat mengurangi iritasi, mencegah infeksi, dan mempercepat proses penyembuhan. Apoteker akan memberikan saran produk mana yang tepat untuk Anda.

Untuk mencegah ketidaknyamanan dan iritasi di kemudian hari, akan lebih baik untuk menghindari menggunakan makeup mata atau kontak lensa hingga kalizion benar-benar sembuh. Kunjungi dokter apabila kalizion tidak sembuh dalam 1 bulan.