Categories
Penyakit

Hindari Sarkoma, Hindari Risiko Penyebabnya

Pernah mendengar penyakit yang dijuluki sarkoma? Penyakit ini sebenarnya merupakan salah satu jenis kanker yang cukup agresif. Namanya tidak semencuat jenis kanker lainnya karena kasus sarkoma di dunia cukup tergolong langka.

Jenis kanker langka ini bisa menyerang bagian tubuh manapun yang memiliki jaringan lunak. Jaringan tersebut busa berada di perut Anda, tungkai kaki, ataupun lengan. Siapapun bisa terserang penyakit ini dari usia dini. Akan tetapi, risiko terkena sarkoma memang lebih rentan pada orang-orang yang sudah tua.

Dianggap langkanya penyakit sarkoma tak lain juga dipicu sedikitnya orang yang menyadari terkena kanker ini. Pasalnya, gejala dari sarkoma sangat sulit untuk terdeteksi. Begitu pula dengan penyebab dari kanker jaringan lunak ini. Meskipun sulit, mengenai penyebabnya, beberapa ahli lewat penelitiannya sudah menyimpulkan sejumlah faktor risiko yang bisa menjadi penyebab sarkoma seperti di bawah ini.

  1. Paparan Radiasi

Seseorang yang sering terkena paparan radiasi tinggi memiliki risiko lebih tinggi terserang sarkoma. Ini termasuk orang-orang yang kerap melakukan terapi radiasi untuk berbagai macam pengobatan. Pasalnya, paparan radiasi membuat sel-sel kanker langka ini lebih mudah berkembang biak dan menyebar dari berbagai jaringan lunak di dalam tubuh.

Penyakit sarkoma yang muncul dari paparan radiasi tidak bisa langsung terasa. Namun dalam beberapa waktu ke depan, keluhan-keluhan ringan di kisaran jaringan lunak Anda bisa menjadi penanda ada sel kanker yang tengah berkembang.

  • Faktor Genetik

Dalam banyak kasus, penderita sarkoma didapati sangat acak dan tidak menunjukkan adanya faktor penularan maupun keturunan. Namun, ditemukan juga pasien-pasien sarkoma yang nyatanya memiliki suatu kelainan genetik yang sama. Karena itulah, faktor genetik juga dinilai memengaruhi berkembangnya sel kanker langka ini di dalam tubuh.

Beberapa orang dengan sindrom tertentu didapati lebih rentan terkena jenis kanker yang satu ini. Sindrom yang berisiko menghadirkan sarkoma, contohnya adalah neurofibromatosis dan tuberous sclerosis. Keduanya merupakan sindrom yang memicu tumor jinak. Neurofibromatosis merupakan sindrom munculnnya tumor jinak di bagian saraf. Sementara itu, tuberous sclerosis merupakan sindrom di mana munculnya tumor jinak di bagian otak.

  • Paparan Bahan Kimia

Beberapa bahan kimia bisa meningkatkan risiko yang menjadi penyebab sarkoma. Bahan-bahan kimia pemicu sarkoma umumnya berupa zat beracun yang memang berbahaya bagi tubuh. Paparan yang berlebih secara sengaja maupun tidaklah yang akhirnya membuat bahan-bahan tersebut mampu mengembangkan sel kanker di jaringan lunak manusia.

Beberapa bahan kimia yang mesti Anda waspadai, seperti arsenik, vinyl chloride, serta herbisida fenoksiasetat. Hanya saja, para peneliti mengingatkan ahwa bahan-bahan kimia tersebut memang meningkatkan risiko kanker, akan tetapi tidak bisa dihakimi sebagai penyebab utamanya.

  • Virus Herpes

Kanker langka bernama sarkoma nyatanya juga bisa disebabkan oleh adanya mikroorganisme yang masuk ke dalam tubuh. Adalah virus herpes yang dituduh sebagai penyebab penyakit yang menyerang sel jaringan lunak ini.

Tepatnya virus herpes 8 yang disebut meningkatkan risiko sarkoma pada diri seseorang. Virus ini menjadi satu-satunya penyebab pasti dari sarkoma yang sampai kini bisa ditemukan oleh para peneliti.

  • Penyakit Tulang

Seseorang yang terkena penyakit tulang terlebih dahulu lebih rentan terkena sarkoma. Sejauh ini, penyakit tulang yang meningkatkan risiko munculnya kanker langka di jaringan lunak ini adalah paget.

Paget merupakan suatu penyakit yang tergolong sebagai gangguan regenerasi tulang. Umumya, paget akan menyerang bagian tulang belakang, tungai, serta panggul seseorang. Ketika terserang penyakit ini, tulang penderita akan lebih rapuh bahkan bisa berubah bentuk menjadi bengkok.

Banyak penyebab sarkoma belum diketahui secara pasti. Jadi, menghindari sejumlah faktor risiko yang memungkinkan memunculkan sel kanker di jaringan lunak menjadi jalan terbaik untuk mencegah diri terkena sarkoma.

Categories
Penyakit

Memahami Efek Samping Kemoterapi

Kemoterapi atau yang lebih sering disebut “kemo” adalah penggunaan obat untuk membunuh atau memperlambat pertumbuhan sel kanker. Lalu apa efek samping kemoterapi bagi Anda yang menjalankan pengobatannya?

Obat-obatan kemoterapi disebut sitotoksik, yang berarti toksik bagi sel (cyto).  Beberapa obat kemoterapi berasal dari sumber alami seperti tanaman, sementara obat kemo lainnya dapat juga dibuat sepenuhnya di laboratorium.

Ada banyak jenis obat kemoterapi, dan masing-masing jenis menghancurkan atau mengecilkan sel kanker dengan cara yang berbeda.

Obat kemoterapi yang Anda miliki tergantung pada jenis kanker, karena berbagai obat kemo bekerja pada berbagai jenis kanker yang berbeda. Terkadang kemoterapi adalah satu-satunya perawatan yang diperlukan untuk penderita kanker, tetapi sangat mungkin juga untuk Anda menjalani operasi, terapi radiasi atau terapi obat lain.

Kemoterapi sendiri dapat digunakan untuk berbagai macam alasan, yaitu:

  1. Untuk mencapai remisi atau penyembuhan

Dalam banyak kasus, kemoterapi memperlihatkan tanda-tanda berkurangnya gejala kanker atau bahkan hilang. Perawatan kemo ini bisa disebut sebagai kemoterapi kuratif.

  1. Untuk membantu perawatan lain

Terkadang kemoterapi diberikan sebelum atau sesudah perawatan lain.  Jika digunakan sebelumnya (terapi neoadjuvant), tujuannya adalah untuk mengurangi kanker sehingga pengobatan lain yang dijalankan lebih efektif. Jika kemoterapi diberikan setelah perawatan lain (terapi adjuvant), bertujuan adalah untuk menyingkirkan sel-sel kanker yang tersisa. Kemoterapi sendiri sering diberikan bersamaan dengan terapi radiasi agar terapi radiasi berjalan lebih efektif.

  1. Untuk mengendalikan kanker

Bahkan jika kemoterapi tidak dapat mencapai remisi atau respons lengkap, kemo sendiri dapat digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan kanker dan menghentikan penyebarannya ke tubuh Anda untuk jangka waktu tertentu. Kemoterapi ini dapat disebut sebagai kemoterapi paliatif.

  1. Untuk meringankan gejala kanker

Kemoterapi dapat meningkatkan kualitas hidup Anda, dengan cara mengecilkan kanker yang menyebabkan rasa sakit dan gejala lainnya. Kemoterapi ini juga disebut sebagai kemoterapi paliatif.

  1. Untuk menghentikan kanker datang kembali

Kemoterapi sendiri dapat berlanjut selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah remisi. Hal ini bertujuan untuk mencegah atau menunda kanker datang kembali.

Pengobatan kemoterapi mempengaruhi semua sel yang tumbuh dan mampu membelah dengan cepat di dalam tubuh Anda. Termasuk sel-sel kanker dan sel-sel normal yang ada di tubuh Anda, seperti sel-sel darah baru di sumsum tulang atau sel-sel di mulut, perut, kulit, rambut dan organ reproduksi lainnya. Ketika kemoterapi merusak sel-sel normal, hal inilah yang disebut dengan efek samping kemoterapi.

Sebenarnya sulit untuk memprediksi efek samping apa yang akan Anda dapatkan dari kemoterapi.

Berikut adalah daftar dari efek samping yang umum terjadi ketika Anda menjalankan kemoterapi:

  • Kelelahan

Kelelahan adalah salah satu efek samping kemoterapi yang paling umum terjadi. Banyak orang yang menjalani perawatan merasa lelah atau lelah dengan sangat mudah selama menjalankan aktivitas sehari-hari.

  • Merasa mual dan muntah

Banyak orang yang menjalani kemoterapi akan mengalami periode dimana Anda merasa mual atau bahkan muntah. Dokter Anda dapat memberi Anda obat anti mual untuk mengurangi atau mencegah hal ini terjadi.

  • Rambut rontok

Rambut rontok termasuk efek samping kemoterapi yang umum terjadi, meskipun tidak terjadi pada semua orang. Jika Anda kehilangan rambut, biasanya hal ini akan mulai terlihat dalam beberapa minggu setelah sesi perawatan pertama Anda.

Biasanya Anda akan kehilangan banyak rambut setelah satu atau dua bulan menjalani kemoterapi.

Biasanya Anda akan kehilangan rambut dari bagian kepala Anda, tetapi sangat mungkin juga bila Anda kehilangan rambut dari bagian tubuh lain, termasuk lengan, kaki, dan wajah.

Pada umumnya, rambut Anda akan mulai tumbuh kembali setelah perawatan kemoterapi Anda selesai. Tetapi terkadang, rambut yang tumbuh kembali memiliki warna yang sedikit berbeda atau mungkin lebih bergelombang atau lebih lurus dari biasanya.

  • Infeksi

Kemoterapi dapat mengurangi kemampuan tubuh Anda untuk melawan infeksi. Hal ini membuat Anda lebih mungkin terkena infeksi yang bisa membuat Anda sakit parah.

  • Anemia

Kemoterapi menurunkan jumlah sel darah merah, yang membawa oksigen ke seluruh tubuh Anda. Jika jumlah sel darah merah Anda turun dan menjadi terlalu rendah, Anda akan mengalami anemia.

  • Memar dan berdarah

Kemoterapi dapat mengurangi jumlah sel yang disebut trombosit dalam darah Anda. Jika jumlah trombosit di tubuh Anda rendah, Anda akan memiliki kulit yang mudah memar, mimisan parah dan gusi berdarah.

  • Sakit di sekitar mulut

Terkadang kemoterapi dapat membuat lapisan mulut terasa sakit dan teriritasi.  Ini dikenal sebagai mucositis.

  • Kehilangan nafsu makan

Anda mungkin kehilangan nafsu makan saat Anda menjalani kemoterapi, tetapi Anda harus mencoba untuk banyak minum cairan dan makan apa saja yang Anda bisa.

  • Masalah tidur

Beberapa orang yang menjalani kemoterapi mengalami kesulitan tidur, atau terbangun di tengah malam dan tidak dapat kembali tidur. Hal ini dikenal sebagai insomnia.

  • Masalah emosional

Kemoterapi dapat menjadi pengalaman yang membuat Anda frustasi, stres, dan traumatis. Sangat wajar untuk merasa cemas dan bertanya-tanya apakah perawatan yang Anda lakukan akan berhasil. Stres dan kecemasan juga dapat meningkatkan risiko Anda terkena depresi.

  • Perubahan kulit dan kuku

Beberapa obat kemoterapi dapat menyebabkan perubahan sementara pada kulit Anda. Misalnya, kulit Anda menjadi kering, sedikit berubah warna secara tidak merata, Anda lebih sensitif terhadap sinar matahari, dan gatal. Sebelum perawatan kemoterapi Anda dimulai, biasanya dokter atau perawat Anda akan mendiskusikan efek samping kemoterapi yang harus Anda waspadai atau laporkan. Anda juga dapat berdiskusi mengenai bagaimana cara mencegah atau mengendalikan efek samping dari kemoterapi tersebut, dan siapa yang harus dihubungi jika Anda memerlukan bantuan.